MALANG (Lentera) - Suasana hangat menyelimuti kawasan Candi Badut, Kabupaten Malang, Jumat (20/3/2026). Di saat sebagian umat Islam telah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, ratusan umat Hindu dari berbagai wilayah Malang Raya berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan Ngembak Geni. Sebuah momen sakral penutup rangkaian Hari Raya Nyepi.
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, I Made Warthana, menyampaikan rasa syukur atas tingginya partisipasi umat Hindu dalam Ngembak Geni tahun ini. Ia menilai, kehadiran ratusan umat menjadi cerminan kuatnya sradha atau keyakinan spiritual di tengah masyarakat.
"Siang ini kami bersyukur karena umat Hindu se-Malang Raya bisa hadir dan mengikuti Sembahyang Ngembak Geni. Ini menunjukkan betapa tingginya tingkat sradha," ujarnya.
Untuk diketahui, sekitar pukul 11.00 WIB, pelataran candi dipenuhi umat yang datang dengan busana adat serba putih. Mereka mengikuti rangkaian persembahyangan dengan khidmat.
Ngembak Geni dilaksanakan setelah umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Dalam tradisi ini, umat menahan diri dari menyalakan api, bekerja, bepergian, hingga hiburan, sebagai bentuk refleksi diri dan penyucian batin.
Memasuki Ngembak Geni, Made mengatakan umat diperbolehkan kembali "menyalakan api." Namun, makna api dalam konteks ini tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga simbol yang menandai bangkitnya kembali semangat kehidupan yang dilandasi nilai-nilai spiritual.
"Secara harfiah kita sudah boleh menyalakan api kembali. Artinya, kita juga menyalakan api persaudaraan, cinta kasih, dan dharma. Kita bisa beraktivitas seperti sedia kala, tetapi dengan nilai spiritual yang meningkat," jelas Made.
Menurutnya, momentum Ngembak Geni kali ini terasa semakin istimewa karena beriringan dengan perayaan Idul Fitri. Perjumpaan 2 hari besar keagamaan ini menjadi refleksi nyata tentang harmoni di tengah keberagaman yang hidup di Indonesia.
Ditegaskannya, ajaran Hindu mengenal konsep universal Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna bahwa seluruh makhluk hidup adalah satu keluarga. Nilai ini, menurutnya, menjadi landasan penting dalam membangun sikap toleransi antarumat beragama.
"Pada dasarnya kita semua adalah satu keluarga. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi," tuturnya.
Tak hanya menjadi ruang ibadah, Made menuturkan Candi Badut juga memiliki nilai historis yang kuat. Candi ini diyakini sebagai candi Hindu tertua di Jawa Timur yang telah berdiri sejak abad ke 8, sekaligus menjadi simbol peradaban dan spiritualitas yang terus dijaga hingga kini.
"Kami sepakat bahwa setiap akhir rangkaian Nyepi, kita akan selalu hadir di tempat suci ini. Karena ini adalah peninggalan suci agama Hindu yang harus kita jaga bersama," imbuh Made.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian PHDI Kabupaten Malang, Istianah, berharap kebersamaan antara umat Hindu di wilayah Kota dan Kabupaten Malang dapat terus terjalin ke depannya.
Ia mendorong agar pelaksanaan Ngembak Geni dapat terus menjadi momentum mempererat persatuan, tidak hanya di kalangan umat Hindu, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.
"Ke depan, mari kita tingkatkan kebersamaan untuk melaksanakan persembahyangan Ngembak Geni antara Kabupaten dan Kota Malang," ujarnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Widyawati




.jpg)
