19 March 2026

Get In Touch

Dinkes: Pemicu Keracunan Massal Santri di Jombang adalah Nitrit pada Telur Asin MBG

Para santri Ponpes Sholawat Darut Taubah Mojoagung Jombang menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah, Kamis malam (5/3/2026).(sutono Abdillah)
Para santri Ponpes Sholawat Darut Taubah Mojoagung Jombang menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah, Kamis malam (5/3/2026).(sutono Abdillah)

JOMBANG (Lentera) – Penyebab keracunan puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang, yang terjadi 5 Maret lalu, akhirnya terungkap.

Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan nitrit pada telur asin, yang merupakan menu dari Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal, normalnya, makanan itu tidak mengandung nitrit.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, menyampaikan, kandungan nitrit ditemukan pada sampel telur asin yang dikonsumsi santri. Kadar yang terdeteksi mencapai 28 mikrogram per kilogram berat badan.

“Normalnya makanan itu tidak mengandung nitrit. Kalau ada nitrit, dampaknya bisa memicu mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara mendadak,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Itu sebab, dia menegaskan, telur asin diduga menjadi pemicu utama karena mengandung nitrit.

Selain kandungan nitrit, hasil pemeriksaan juga menunjukkan kandungan bakteri E-coli pada air di pondok cukup tinggi. Air yang digunakan, baik untuk memasak maupun mencuci, tercatat memiliki kadar E-coli hingga 1.030 sampai 2.030 per mililiter.

“Harusnya nol. Tapi ini mencapai dua ribu. Itu berisiko menyebabkan sakit perut, mual, dan nyeri perut,” terangnya.

Hexawan menjelaskan, temuan lain dari sampel muntahan santri juga mengandung bakteri Bacillus cereus.

Namun, pihaknya belum bisa memastikan sumber pasti bakteri tersebut karena tidak dilakukan pengujian pada semua jenis makanan, termasuk pisang yang sempat dikonsumsi sebagian santri.

“Fokus kami pemeriksaan pada telur asin, rawon, air, dan sampel muntahan. Telur asin diduga menjadi pemicu utama karena mengandung nitrit," jelas Hexawan.

Terkait penyebab munculnya nitrit, Hexawan menduga dipengaruhi proses penyimpanan atau kualitas bahan yang tidak terkontrol dengan baik.

Diberitakan sebelumnya, sedikitnya 21 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang diduga mengalami keracunan makanan setelah berbuka puasa, Kamis (5/3/2026) malam.

Para santri awalnya menyantap hidangan berbuka berupa nasi dengan kuah rawon masakan dari pihak ponpes, dengan lauk telur asin jatah atau menu dari program MBG.

Awalnya, hidangan yang dimakan oleh santri tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, setelah melaksanakan salat Isya, sejumlah santri mulai mengeluhkan gejala mual, muntah, serta pusing.

Kondisi itu membuat pihak pondok segera melakukan evakuasi. Para santri yang mengalami gejala langsung dibawa ke PKU RSU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis. (*)

 

Reporter : Sutono Abdillah

Editor : Lutfiyu Handi 

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.