JOMBANG (Lentera) - Polres Jombang hingga kini belum bisa memastikan penyebab keracunan yang menimpa puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung.
Sebab, masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan massal tersebut.
Diketahui, sedikitnya 21 santri mendapatkan perawatan medis di RS PKU Muhamadiyah Mojoagung Kamis (5/3/2026) malam usai berbuka puasa dengan nasi rawon dari pondok dan telur asin dari program Makan Bergisi Gratis (MBG).
Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan mengungkapkan pihaknya dan Dinas Kesehatan (Dinkes) telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para santri saat buka puasa di ponpes setempat, untuk diuji di laboratorium. Di antaranya samppel nasi rawon dan telur asin.
“Semua sampel itu kami siapkan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya agar dapat diketahui penyebabnya secara ilmiah,” kata Ardi, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, pemeriksaan awal melalui uji cepat atau rapid test telah dilakukan terhadap beberapa sampel makanan. Hasil sementara menunjukkan tidak ditemukan indikasi adanya zat kimia berbahaya.
“Dari hasil rapid test sementara tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, sianida, nitrat maupun arsenik,” jelasnya.
Ardi memastikan kondisi para santri yang sempat dirawat kini berangsur membaik. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
“Untuk yang masih berada di ruang IGD saat ini tinggal tujuh orang, terdiri dari satu santri laki-laki dan enam santri perempuan. Kondisinya juga sudah stabil dan bisa berkomunikasi,” ujarnya.
Kepala Dinkes Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, mengatakan pemeriksaan difokuskan pada uji laboratorium guna memastikan penyebab kejadian. Pemeriksaan laboratorium dan kultur bakteri biasanya memakan waktu 10 hari agar hasil akurat.
“Sampel yang kami kirim meliputi makanan, muntahan pasien, serta sampel air dari lingkungan pondok. Pemeriksaan laboratorium termasuk uji mikrobiologi untuk memastikan sumbernya," ujarnya.
Diberitakan, sebanyak 21 santri Ponpes Sholawat Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang diduga mengalami keracunan makanan setelah berbuka puasa, Kamis (5/3/2026) malam.
Para santri awalnya menyantap hidangan berbuka berupa nasi dengan kuah rawon dari pihak ponpes, bersama lauk telur asin jatah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hidangan yang dimakan oleh santri tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Bahkan para santri juga tidak mengalami keluhan apapun.
Namun, setelah melaksanakan salat Isya, sejumlah santri mulai mengeluhkan gejala mual, muntah, serta pusing.
Kondisi itu membuat pihak pondok segera melakukan evakuasi. Para santri yang mengalami gejala langsung dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis.
Reporter: Sutono Abdillah|Editor: Arifin BH






.jpg)
