MADIUN (Lentera) -Pemerintah mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di Lapangan Rejomulyo, Kota Madiun, Jumat (6/3/2026).
Program yang digagas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kota Madiun itu langsung diserbu warga sejak pagi. Masyarakat antre untuk mendapatkan berbagai kebutuhan pokok seperti minyak goreng, bawang merah, telur, hingga cabai dengan harga lebih rendah dibandingkan di pasaran.
Salah satu warga, Wiwin Kristiana, mengaku sengaja datang karena harga bahan pokok yang ditawarkan lebih terjangkau.
“Ini tadi beli minyak goreng, bawang merah, sama telur buat kebutuhan sehari-hari. Menurut saya harganya memang lebih murah dibandingkan biasanya, makanya saya ikut antre karena mumpung murah,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini cukup membantu masyarakat, terutama pada Ramadan ketika harga bahan pokok cenderung naik.
“Alhamdulillah terbantu. Biasanya kalau sudah bulan puasa harga bahan pokok melonjak. Walaupun selisihnya tidak terlalu jauh, tapi tetap membantu,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan Gerakan Pangan Murah merupakan salah satu langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menekan laju inflasi.
Ia menjelaskan, saat ini pasokan sejumlah komoditas di pasar induk memang mengalami penurunan sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen, terutama cabai rawit.
“Contohnya di Pasar Induk Pare yang menjadi salah satu pemasok buah dan sayur di Jawa Timur. Biasanya suplai sekitar 30 ton per hari, sekarang hanya sekitar 20 ton. Artinya memang ada penurunan pasokan,” jelasnya.
Meski begitu, Heru memperkirakan harga akan kembali stabil dalam waktu dekat seiring datangnya masa panen, khususnya cabai dari wilayah dataran tinggi.
“Nanti sekitar akhir Maret sudah mulai panen. Kalau pasokan meningkat, biasanya harga juga akan kembali normal,” ujarnya.
Selain melalui Gerakan Pangan Murah, pemerintah juga melakukan intervensi lain untuk menjaga stabilitas harga, salah satunya melalui operasi pasar di sejumlah pasar tradisional yang menjadi acuan penghitungan inflasi, seperti Pasar Sleko dan Pasar Besar Madiun.
Heru menambahkan, Gerakan Pangan Murah ditargetkan digelar di 15 titik di berbagai daerah di Jawa Timur, dan Kota Madiun menjadi lokasi ketiga pelaksanaannya.
“Kota Madiun ini titik ketiga dari total 15 titik yang direncanakan. Selain itu, kegiatan serupa juga akan dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di sejumlah daerah,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai mampu membantu masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional.
“Hampir setiap hari laporan harga dari pasar selalu diperbarui oleh Dinas Perdagangan. Satgas juga terus memantau agar pasokan tetap aman dan harga stabil,” ujarnya.
Menurut Bagus, salah satu komoditas yang kerap memicu kenaikan inflasi di Kota Madiun adalah cabai rawit, mengingat tingginya konsumsi masyarakat.
“Warga Madiun ini terkenal suka makanan pedas. Cabai rawit sering menjadi komoditas yang harganya naik cukup tinggi dan mempengaruhi inflasi,” katanya.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Pemerintah Kota Madiun juga menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah penghasil pangan seperti Kediri, Magetan, dan Blitar, mengingat keterbatasan lahan pertanian di Kota Madiun.
Selain itu, pemerintah kota juga menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi lonjakan harga yang signifikan, termasuk kemungkinan pemberian subsidi harga.
“Jika terjadi kenaikan harga yang berpotensi memicu inflasi tinggi, pemerintah kota siap memberikan subsidi untuk membantu masyarakat,” pungkasnya.
Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH






.jpg)
