Tren Kenaikan Konsumsi Beras di Kota Malang Capai 25 Persen Saat Ramadan, Stok Dipastikan Aman
MALANG (Lentera) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mencatat adanya tren kenaikan konsumsi beras selama Ramadan hingga Idul Fitri. Berdasarkan pola beberapa tahun terakhir, peningkatan konsumsi tersebut bisa mencapai sekitar 25 persen dibandingkan bulan-bulan biasa. Meski demikian, stok beras di Kota Malang dipastikan dalam kondisi aman.
"Ini sudah menjadi tren kalau Ramadan sampai dengan nanti Idul Fitri serta H+7 Idul Fitri, itu konsumsi pangan, terutama beras masih meningkat," ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah, dikonfirmasi melalui sambungan selular, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, jika melihat tren beberapa tahun ke terakhir, hampir seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan konsumsi. Untuk beras, kenaikannya tergolong signifikan.
"Kalau kami melihat trennya beberapa tahun ke belakang, konsumsi hampir semua komoditi pangan pasti naik. Kenaikannya lumayan. Untuk beras sekitar 25 persen ke atas," jelasnya.
Berdasarkan data Dispangtan, konsumsi beras masyarakat di Kota Malang dalam setahun mencapai sekitar 60 ribu ton. Artinya, setiap bulan rata-rata kebutuhan beras warga berada di kisaran 5.000 ton.
Sementara itu, untuk ketersediaan saat ini, stok beras di pasar disebut masih mencukupi. "Kalau saat ini ketersediaan komoditas tersebut di pasar masih tersedia sekitar 75.667,83 ton," terang Elfiatur.
Dengan adanya tren kenaikan konsumsi tersebut, pihaknya memastikan langkah antisipasi telah dilakukan lebih awal. Sejak 23 Januari 2026, menurutnya Dispangtan telah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Dispangtan juga melakukan koordinasi dengan sejumlah daerah sentra penghasil beras di Jawa Timur. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi ke Kota Malang.
Namun demikian, Elfiatur mengakui sempat terdapat gangguan produksi di beberapa wilayah sentra akibat serangan hama wereng, salah satunya di Banyuwangi, sehingga pasokan sempat berkurang.
Tak hanya mengandalkan distribusi dari daerah produsen, cadangan beras pemerintah juga menjadi penopang ketahanan stok. Elfiatur memastikan cadangan beras di Gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Malang masih mencukupi untuk kebutuhan jangka panjang.
"Di Bulog sendiri cadangan berasnya bisa untuk 10 bulan lebih, hampir satu tahun. Cadangannya sekitar 500 ton lebih. Sehingga sebenarnya stok untuk beras itu masih aman apalagi menjelang Ramadan dan Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi," tegasnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga menekankan pengawasan tidak hanya berfokus pada ketersediaan stok, tetapi juga stabilitas harga di pasaran. Dispangtan, lanjutnya, terus memastikan harga beras tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET).
Beberapa waktu lalu, Elfiatur menyebut koordinasi daring telah dilakukan bersama Satgas Saber Pelanggaran Pangan yang dipimpin Polda Jawa Timur. Dalam forum tersebut, pelaku usaha diminta membuat pernyataan komitmen untuk menjual beras sesuai dengan ketentuan HET.
"Mengacu pada Surat Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 Tahun 2025 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras, HET untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan ditetapkan sebesar Rp13.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium," pungkasnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
