24 February 2026

Get In Touch

Terobosan Sains Atasi Dengkuran dalam 90 Menit

Terobosan Sains Atasi Dengkuran dalam 90 Menit

SURABAYA ( LENTERA ) - Dunia medis baru saja mencatatkan sejarah baru dalam penanganan gangguan tidur. Para peneliti berhasil menemukan metode mutakhir yang mampu menghentikan kebiasaan mendengkur secara ampuh hanya melalui intervensi singkat selama 90 menit. Temuan ini menjadi Solusi bagi jutaan orang yang selama ini bergantung pada alat bantu pernapasan yang tidak nyaman atau prosedur bedah yang berisiko tinggi.

Inti dari teknik ini terletak pada pemulihan elastisitas otot-otot saluran pernapasan atas. Selama 90 menit, pasien menjalani terapi stimulasi saraf yang dirancang untuk memperkuat jaringan lunak di sekitar tenggorokan. Prosedur ini secara otomatis mencegah penyempitan jalur udara yang menjadi pemicu utama getaran suara yang kita kenal sebagai ngorok. Keunggulan utama metode ini adalah sifatnya yang noninvasif, namun memberikan hasil instan dan

signifikan bagi kualitas istirahat pasien.
Secara medis, temuan ini bukan sekadar soal kenyamanan tidur pasangan, melainkan urgensi keselamatan kesehatan yang lebih luas. Mendengkur sering kali menjadi indikator Obstructive Sleep Apnea (OSA), kondisi berbahaya yang menghambat aliran oksigen ke otak dan jantung saat tidur. Dengan mengatasi akar masalahnya, risiko komplikasi fatal seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga stroke dapat ditekan secara drastis melalui prosedur efisien yang hanya hitungan menit

Pergeseran paradigma ini diprediksi akan mengubah lanskap industri kesehatan tidur pada tahun 2026. Selama dekade terakhir, solusi bagi pendengkur terbatas pada penggunaan mesin Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang sering dianggap mengganggu estetika dan kenyamanan. Namun, dengan hadirnya metode 90 menit ini, masyarakat kini memiliki opsi untuk mendapatkan kesembuhan fungsional tanpa harus "terikat" pada mesin setiap malam. Fokus pengobatan kini beralih dari sekadar alat bantu menjadi perbaikan struktur otot secara permanen.

Meskipun demikian, para pakar dalam laporan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang prosedur ini harus ditunjang oleh gaya hidup seimbang. Faktor luar, seperti manajemen berat badan dan kontrol terhadap konsumsi zat penenang, memegang peranan penting dalam menjaga kelenturan otot tenggorokan yang telah diterapi. Inovasi ini diharapkan segera tersedia secara masif di berbagai pusat layanan kesehatan internasional. (Nathasya, Mahasiswa UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini).
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.