19 February 2026

Get In Touch

Anggaran Terbatas, Pemkot Malang Akui Wi-Fi Gratis di Ruang Publik Belum Diperluas

Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto. (Santi/Lentera)
Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengakui belum dapat memperluas cakupan Wi-Fi di sejumlah ruang publik pada tahun 2026. Keterbatasan anggaran menjadi alasan utama belum adanya penambahan titik maupun peningkatan kapasitas bandwidth layanan internet gratis tersebut.

"Kalau keinginan kami memang ada. Tetapi semuanya harus memperhatikan proporsi yang ada, artinya ketersediaan anggaran yang ada," ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, Rabu (18/2/2026).

Ditegaskannya, ruang-ruang publik tetap menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama yang berkaitan dengan layanan yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, intervensi terhadap ruang publik bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga layanan pendukung seperti akses internet.

"Ruang-ruang publik itu menjadi hal yang penting untuk diintervensi, baik itu berkaitan dengan layanan atau hal yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," jelasnya.

Meski demikian, untuk tahun anggaran 2026, Diskominfo memastikan belum ada penambahan layanan Wi-Fi gratis berdasarkan titik existing yang sudah ada. "Ke depan mungkin bisa jadi seperti itu. Tapi kalau untuk di tahun 2026 ini belum ada," tegasnya.

Pria yang akrab dengan sapaan Wiwid tersebut menegaskan, saat ini layanan Wi-Fi gratis di Kota Malang masih tersedia secara terbatas di sejumlah taman kota dan ruang publik. Namun kapasitasnya dinilai belum besar dan belum mengalami peningkatan bandwidth.

"Skalanya memang terbatas. Taman-taman kota memang kami intervensi tapi kapasitasnya tidak besar. Tetapi sekali lagi untuk penambahan bandwidth di tahun 2026 ini belum ada. Mungkin tahun 2027 bisa menjadi pertimbangan," imbuhnya. 

Sementara itu, sejumlah pengunjung Alun-alun Merdeka berharap fasilitas Wi-Fi gratis dapat diperluas, terlebih setelah kawasan tersebut direvitalisasi dan kini lebih tertata. Salah satu pengunjung, Rara (24), warga Lowokwaru, mengaku akses internet gratis akan sangat membantu, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan ruang publik.

"Sekarang alun-alunnya sudah bagus dan nyaman. Kalau ada Wi-Fi apalagi yang sinyalny stabil pasti akan lebih mendukung," ujarnya.

Di sisi lain, Wiwid mengatakan, pihaknya saat ini tengah memfokuskan program pada penguatan edukasi digital, khususnya pasca revitalisasi Alun-alun Merdeka. Ruang publik tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang yang menghidupkan kembali memori kolektif warga.

Menurutnya, pasca revitalisasi, alun-alun diharapkan menjadi ruang yang membuat masyarakat "menolak lupa" terhadap sejarah dan identitas Kota Malang. Selain itu, kawasan tersebut juga akan terintegrasi dengan Kayutangan Heritage sebagai bagian dari penataan satu kesatuan kawasan wisata.

"Orang ke Alun-alun Merdeka akan teringat masa-masa tempo dulu lagi. Yang kedua, orang ke alun-alun juga akan terintegrasi secara langsung dengan Kayutangan Heritage. Ke depan Pak Wali ingin melakukan penataan satu kesatuan kawasan wisata," paparnya.

Karena itu, pada 2026 ini Diskominfo lebih memprioritaskan penguatan konten edukasi digital dibandingkan perluasan jaringan Wi-Fi gratis. Salah satu rencana yang disiapkan adalah peluncuran rubrik digital yang mengupas sejarah penamaan wilayah di Kota Malang. 

"Tahun ini kami lebih mempertajam ke edukasi-edukasi itu. Melalui berbagai ragam narasi dan edukasi termasuk peluncuran rubrik digital nanti, yang akan mengupas sejarah penamaan wilayah di Kota Malang yang berbeda dengan nama administratifnya," pungkasnya. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.