18 February 2026

Get In Touch

Klenteng Eng An Kiong Kota Malang Magnet Warga Lintas Agama Saat Rayakan Imlek 2577

Warga umat islam nampak berpose di Klenteng Eng An Kiong pada perayaan Tahun Baru Imlek, Selasa (17/2/2026). (Santi/Lentera)
Warga umat islam nampak berpose di Klenteng Eng An Kiong pada perayaan Tahun Baru Imlek, Selasa (17/2/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, tidak hanya menjadi momentum ibadah bagi umat Tri Dharma. Tetapi juga mampu menjadi magnet bagi warga lintas agama.

Sejak pagi, antusiasme tersebut terlihat dari kehadiran sejumlah warga Muslim yang datang bersama keluarga. Mereka mengaku ingin mengetahui lebih dekat bagaimana prosesi ibadah umat Tri Dharma berlangsung, sekaligus menikmati pertunjukan barongsai yang menjadi bagian dari perayaan.

Sintya, warga Gondanglegi, Kabupaten Malang, mengaku baru pertama kali datang ke Klenteng Eng An Kiong saat momen Imlek. Ia datang bersama anak, orang tua, serta teman-temannya untuk melihat langsung suasana perayaan.

"Saya ke Klenteng Eng An Kiong ini karena mau tahu bagaimana sembahyangnya umat yang merayakan Tahun Baru Imlek ini ngapain saja. Karena saya baru ke sini," ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Selain ingin menyaksikan prosesi ibadah, Sintya juga tertarik menonton pertunjukan barongsai dan penampilan budaya lainnya. Ia mengaku mendapatkan informasi dalam perayaan Imlek terdapat berbagai hiburan yang bisa dinikmati masyarakat umum.

Menurutnya, suasana yang ramai tidak hanya diisi umat yang beribadah, tetapi juga pengunjung dari berbagai latar belakang. Ia menilai momen tersebut menjadi pengingat, Kota Malang memiliki keberagaman budaya dan agama yang hidup berdampingan.

"Kesannya senang karena ternyata ramai orang juga selain yang beribadah. Jadi sadar kalau Malang ini punya budaya, banyak keragaman budaya dan agama," tuturnya.

Hal serupa disampaikan Diah dan Mariana, warga Sawojajar. Keduanya datang sejak pukul 09.00 WIB untuk melihat langsung proses ibadah di dalam klenteng, sekaligus menunggu pertunjukan barongsai.

Selama berada di lokasi, keduanya berkeliling area klenteng dan mengabadikan momen dengan berfoto di sejumlah titik, termasuk di sekitar patung dewa-dewi. Mariana mengaku sengaja mengenakan busana bernuansa merah untuk menyesuaikan dengan suasana perayaan Imlek.

"Tadi saya datang jam 9, sudah keliling-keliling klenteng. Sekalian foto-foto di patung dewa dewi di sini. Makanya saya juga sekalian pakai baju merah," ujarnya.

Tak hanya menjadi ruang interaksi sosial lintas agama, perayaan Imlek 2577 di Klenteng Eng An Kiong juga membawa dampak ekonomi bagi pedagang musiman. Salah satunya Joko, pedagang mainan barongsai yang rutin berjualan setiap momen Imlek.

Ia mengaku membawa berbagai jenis mainan, mulai dari barongsai kecil, bantengan, hingga barongsai ukuran besar. Hingga siang hari, sebagian dagangannya telah terjual.

"Saya tadi bawa mainan barongsai 14, bantengan 7, barongsai yang besar 5 buah. Sampai siang ini sudah laku 2," ungkapnya.

Joko mengatakan sudah lama berjualan setiap perayaan Imlek di lokasi tersebut. Untuk harga, ia mematok Rp50 ribu untuk barongsai kecil dan bantengan, serta Rp75 ribu untuk ukuran besar. Dua mainan yang terjual hingga siang hari merupakan barongsai kecil yang dibeli pengunjung usai beribadah.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.