15 February 2026

Get In Touch

Angka Kematian Ibu di Kota Malang Menurun, Dinkes Perkuat Intervensi Siklus Hidup Perempuan

Ilustrasi: Pemeriksaan kesehatan pada remaja perempuan di Kota Malang. (dok. Puskesmas Gribig)
Ilustrasi: Pemeriksaan kesehatan pada remaja perempuan di Kota Malang. (dok. Puskesmas Gribig)

MALANG (Lentera) - Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Malang menunjukkan tren penurunan dalam 2 tahun terakhir. Seiring capaian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memperkuat intervensi berbasis siklus hidup perempuan. Mulai dari usia remaja, pranikah, kehamilan, hingga persalinan guna menekan risiko kematian ibu.

"Intervensi untuk menekan kematian ibu dilakukan melalui pendekatan siklus hidup perempuan. Artinya, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan saat kehamilan, tetapi dimulai sejak usia remaja sampai pada persalinan," ujar Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, Sabtu (14/2/2026).

Ditambahkannya, isu kesehatan perempuan menjadi salah satu usulan terbanyak yang diakomodasi dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tematik 2027. Hal tersebut tidak lepas dari masih adanya kasus kematian ibu di Kota Malang meskipun kasusnya terus menurun.

Lebih lanjut, dalam praktiknya, Husnul menegaskan Dinkes telah melakukan sejumlah langkah preventif. Di antaranya edukasi mengenai rentang usia ideal kehamilan, yakni 20 hingga 35 tahun, skrining ibu hamil untuk mendeteksi risiko tinggi.

Kemudian pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali selama masa gestasi atau masa perkembangan janin di dalam rahim, yang dihitung mulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT) hingga proses persalinan.

Selain itu, lanjut Husnul, upaya pencegahan juga mencakup persalinan di fasilitas kesehatan. Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif, serta perawatan metode kangguru bagi bayi untuk menjaga kehangatan dan mendukung tumbuh kembang, terutama pada bayi dengan berat lahir rendah. 

"Kami juga menekankan pentingnya menunda usia perkawinan dini sebagai bagian dari pencegahan risiko kehamilan berisiko," kata Husnul.

Untuk diketahui, mengacu pada laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Angka Kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu yang diakibatkan oleh kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Di Indonesia, penyebab kematian ibu yang paling umum antara lain perdarahan, preeklampsia atau eklampsia, serta infeksi.

Selain itu, keterlambatan dalam menegakkan diagnosis. Serta keterlambatan rujukan ke fasilitas kesehatan dengan sarana memadai, juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya AKI.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang, Muhammad Zamroni, menyampaikan tren penurunan tidak hanya terjadi pada kematian ibu, tetapi juga pada kematian bayi hingga balita.

"Kasus kematian ibu di tahun 2024 berjumlah 9 kasus, kemudian di tahun 2025 menurun menjadi 5 kasus. Untuk kematian bayi sampai dengan balita, di 2024 ada 113 kasus, kemudian di 2025 menjadi 98 kasus," terang Zamroni, dikonfirmasi melalui pesan singkat, Sabtu (14/2/2026).

Meski demikian, pihaknya menegaskan upaya penurunan angka kematian ibu dan anak akan terus dilakukan pada 2026 dan tahun-tahun mendatang. Targetnya, tren positif tersebut dapat dipertahankan bahkan ditekan lebih jauh.

Disinggung terkait faktor dominan penyebab kematian ibu, bayi, dan balita di Kota Malang, Zamroni menyebut pihaknya masih perlu melakukan telaah data lebih rinci. Menurutnya, penyebab kematian cukup beragam dan berbeda antara ibu serta bayi hingga balita.

"Untuk faktor dominan, kami harus melihat data lebih detail. Karena penyebab kematian ibu dan bayi cukup banyak dan berbeda antara ibu serta bayi sampai balita," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.