06 February 2026

Get In Touch

Temuan 17 Kasus Campak di 2025, 32 Ribu Anak di Kota Malang Jadi Sasaran Imunisasi Massal

Ilustrasi: ORI atau imunisasi massal campak di Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: ORI atau imunisasi massal campak di Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 17 kasus campak terkonfirmasi hingga akhir 2025. Temuan ini menjadi dasar pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal yang menyasar sekitar 32 ribu anak di 2 kecamatan.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan ORI difokuskan di Kecamatan Kedungkandang dan Sukun sebagai wilayah dengan temuan kasus tertinggi. "Total sasaran dari dua kecamatan tersebut sekitar 32 ribu anak yang harus divaksinasi," ujarnya, dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Kamis (5/2/2026).

Sepanjang 2025, Husnul menyebutkan sekitar 300 kasus suspek campak tersebar di 5 kecamatan Kota Malang. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, hingga Desember 2025 terkonfirmasi 17 kasus campak di 3 kecamatan. "Rinciannya, Kedungkandang 10 kasus, Sukun 3 kasus, dan Lowokwaru 4 kasus," jelas Husnul.

Berdasarkan temuan tersebut, Dinkes Kota Malang kemudian menerima Surat Edaran dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk menindaklanjuti kasus campak melalui ORI yang dilakukan di wilayah dengan temuan kasus campak.

"ORI menyasar anak usia 9 bulan hingga 13 tahun tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Sekalipun anak sudah mendapat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL), tetap wajib mengikuti ORI karena ini bagian dari respon wabah," jelasnya.

Di Kecamatan Kedungkandang, menurutnya ORI dilaksanakan melalui Puskesmas Kedungkandang yang mencakup Kelurahan Buring, Kotalama, Kedungkandang, dan Wonokoyo. 

Sementara di Kecamatan Sukun, kegiatan dipusatkan di wilayah kerja Puskesmas Janti dengan sasaran Kelurahan Sukun, Bandungrejosari, Tanjungrejo, dan Bakalankrajan.

Lebih lanjut, Husnul menargetkan minimal 95 persen sasaran tervaksinasi guna membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Capaian tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penularan campak dari luar wilayah.

"Jika sudah mencapai 95 persen, maka risiko penularan campak dari luar wilayah bisa ditekan karena sudah terbentuk perlindungan kelompok," katanya.

Pelaksanaan ORI dijadwalkan berlangsung pada 2–6 Februari 2026. Selama kegiatan, Dinkes juga melakukan monitoring dan evaluasi harian untuk melihat capaian vaksinasi di masing-masing titik layanan.

Untuk mengejar target 95 persen, Dinkes menggandeng PKK, Dharma Wanita, serta institusi pendidikan guna membantu pendataan dan koordinasi sasaran. Mengingat sebagian besar anak usia 13 tahun masih berada di jenjang sekolah dasar.

Husnul juga mengimbau orang tua untuk mewaspadai gejala campak, seperti demam disertai ruam merah yang muncul dari belakang telinga lalu menyebar ke wajah, punggung, dan dada. Pada kondisi tertentu, gejala dapat disertai batuk, sakit tenggorokan, serta mata merah.

"Anak dengan kondisi tubuh baik dan imunisasi lengkap umumnya lebih terlindungi. Namun faktor lingkungan juga berpengaruh, terutama jika tinggal di wilayah yang cakupan imunisasinya belum mencapai 95 persen," pungkasnya. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

 

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.