04 February 2026

Get In Touch

Delapan Pekerja Tambang Timah di Bangka Tertimbun Longsor, Enam Ditemukan Meninggal

Tim gabungan mengevakuasi korban tanah longsor di area tambang bijih timah dalam kondisi meninggal dunia, di Bangka, Selasa (3/2/2026). (foto:ist/Ant/BPBD Bangka)
Tim gabungan mengevakuasi korban tanah longsor di area tambang bijih timah dalam kondisi meninggal dunia, di Bangka, Selasa (3/2/2026). (foto:ist/Ant/BPBD Bangka)

BANGKA (Lentera) - Sebanyak delapan orang pekerja tambang biji timah di Desa/Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung diberitakan tertimbun tanah longsor, pada Senin (2/2/2026) sore. 

Enam diantaranya ditemukan meninggal dunia, satu orang selamat dan terluka serta satu lainnya masih dalam pencarian.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mencatat enam orang pekerja tambang bijih timah di Desa Pemali Bangka ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia.

Kepala BPBD Kabupaten Bangka, Rusmansyah mengatakan terdata sebanyak delapan orang pekerja tambang bijih timah di Desa/Kecamatan Pemali, Bangka menjadi korban tertimbun tanah longsor, tercatat enam orang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Ia menjelaskan, enam orang pekerja tambang itu masing-masing ditemukan, pada Senin (2/2/2026) malam sebanyak tiga orang, dan tiga orang lagi ditemukan pada Selasa (3/2/2026) dini hari.

Sementara satu orang pekerja ditemukan selamat dengan kondisi luka di bagian kaki dan satu orang lainnya belum ditemukan.

"Tim gabungan melanjutkan pencarian satu orang yang belum ditemukan hari ini dimulai sekitar pukul 06.00 WIB," jelasnya melansir Antara, Selasa (3/2/2026).

Rusmansyah mengatakan, semua korban baik yang meninggal dunia maupun dan luka-luka sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan identifikasi dan perawatan.

Diketahui, musibah longsor di area tambang itu terjadi, Senin (2/2/2026) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Tanah longsor terjadi saat pekerja sedang mencari timah, tiba-tiba tanah di sekeliling pekerja longsor dengan mengeluarkan suara yang cukup keras.

Diduga penambangan bijih timah jenis tambang inkonvensional tersebut milik pribadi tanpa dilengkapi dokumen perizinan resmi, meskipun aktivitas penambangan di atas area Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah.

"Kita berharap tim gabungan berhasil menemukan satu orang korban yang belum ditemukan. Proses pencarian menggunakan alat berat, seperti ekskavator dan alat pendukung lain untuk mempercepat proses pencarian," kata Rusmansyah.

Sebelumnya, tim gabungan dilibatkan mencari korban yakni personel dari Polres Bangka, BPBD Kabupaten Bangka, relawan Laskar Sekaban, PT Timah dan pihak lain.

Berdasarkan laporan awal dari tempat kejadian, sebanyak 11 orang pekerja tertimbun longsor, empat orang pekerja diketahui selamat, tiga orang meninggal dunia dan sudah dievakuasi serta empat pekerja yang lain masih dalam pencarian.

Menurut salah satu keterangan dari pekerja tambang itu, Mani mengatakan, kejadian kecelakaan tambang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB di saat pekerja sedang melakukan aktivitas.

"Tanah di lokasi tambang longsor dengan mengeluarkan suara yang cukup keras," katanya.

Kepala Bidang Komunikasi Perusahaan PT Timah, Anggi mengakui meskipun aktivitas penambangan bijih timah yang memakan korban tersebut di atas IUP PT Timah, namun kegiatan penambangan tidak memiliki izin resmi.

"Pemilik tambang tidak mengantongi izin resmi melakukan aktivitas penambangan bijih timah di area IUP PT Timah," katanya.

Dia mengatakan, pihak perusahaan membantu proses pencarian korban dengan harapan semua korban yang masih tertimbun tanah dapat segera ditemukan.

Proses pencarian menggunakan alat berat, seperti eksavator dan alat pendukung lain untuk mempercepat proses pencarian. Korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi, langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dan selanjutnya diserahkan ke keluarga korban.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.