04 February 2026

Get In Touch

Fenomena Langka! Komet Besar C/2025 R3 Diprediksi Melintas Dekati Bumi

Fenomena Langka! Komet Besar C/2025 R3 Diprediksi Melintas Dekati Bumi

SURABAYA ( LENTERA ) - Para peneliti bidang astronomi mulai mengamati kemunculan sebuah komet baru. Komet ini diprediksi berpotensi menjadi “komet besar” pada tahun 2026. Jika cukup terang, objek langit tersebut bahkan bisa disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu saat melintasi bumi.

Saat ini, komet tersebut berada di jalur lintasan yang mengarah ke orbit Bumi. Para ilmuwan memperkirakan, komet ini akan mencapai jarak terdekatnya dengan planet kita dalam waktu kurang dari empat bulan. Kondisi ini membuka peluang langka bagi penelitian astronomi.

Komet tersebut diberi nama C/2025 R3. Nama ini merujuk pada waktu penemuannya, yakni 8 September 2025. Komet ini terdeteksi melalui citra Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS), sepasang teleskop reflektor berdiameter 1,8 meter yang berada di puncak Gunung Haleakalā, Hawaii.

“Komet itu saat ini berjarak sekitar 348 juta kilometer dari Bumi, atau berada di antara orbit Jupiter dan Mars,” menurut TheSkyLive.com.

C/2025 R3 tergolong komet berperiode panjang. Komet ini diperkirakan membutuhkan lebih dari 1.000 tahun untuk mengelilingi Matahari satu kali. Para astronom menduga, komet ini berasal dari Awan Oort, wilayah di tepi Tata Surya yang menjadi tempat berkumpulnya komet dan benda langit lain.

Hingga kini, jalur orbit komet tersebut belum dapat ditentukan secara pasti. Karena itu, periodenya juga belum diketahui. Namun, temuan serupa dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya komet yang tidak melintasi wilayah dekat Bumi selama puluhan ribu tahun.

Saat ini, C/2025 R3 terus bergerak mendekati Matahari. Komet ini diperkirakan mencapai perihelion, titik terdekat dengan Matahari, pada 20 April 2026. Pada saat itu, jaraknya hanya sekitar 76,3 juta kilometer, berada di antara orbit Merkurius dan Venus.

Sekitar sepekan kemudian, tepatnya 27 April, komet ini akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi. Jaraknya sekitar 70,8 juta kilometer, atau lebih dari 180 kali jarak Bumi ke Bulan.

Sejumlah peneliti memprediksi, komet ini hanya akan mencapai magnitudo tampak 8. Artinya, pengamatan membutuhkan teleskop atau alat bantu optik. Namun, peneliti lain memperkirakan kecerahannya bisa mencapai magnitudo 2,5. Jika prediksi ini terbukti, komet tersebut dapat terlihat dengan mata telanjang.

Magnitudo tampak diukur dengan skala logaritmik terbalik. Semakin kecil angkanya, semakin terang objek tersebut.

Menurut para astronom, waktu terbaik untuk mengamati komet ini diperkirakan terjadi menjelang perihelion. Periode tersebut jatuh sekitar 17 April, bertepatan dengan fase Bulan baru. Langit malam yang lebih gelap akan memudahkan pengamatan objek redup.

Meski demikian, saat komet berada paling dekat dengan Bumi, posisinya kemungkinan berdekatan dengan Matahari. Hal ini dapat menyulitkan pengamatan, terutama bagi pengamat di belahan selatan Bumi. Komet ini diperkirakan kembali dapat diamati dengan lebih jelas pada awal Mei.(Ella-UINSA, berkontribusi dalam penulisan)
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.