04 February 2026

Get In Touch

Roket Raksasa NASA Siap Diuji, Misi Artemis II Menuju Bulan Kian Dekat

Roket Raksasa NASA Siap Diuji, Misi Artemis II Menuju Bulan Kian Dekat

SURABAYA ( LENTERA ) - NASA bersiap melaksanakan misi peluncuran berawak ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun. Peluncuran tersebut diperkirakan paling cepat berlangsung pada pekan pertama Februari, menandai babak baru eksplorasi luar angkasa melalui misi Artemis II.

Sebagai bagian dari persiapan akhir, NASA telah mengeluarkan roket raksasa Space Launch System (SLS) beserta kapsul antariksa Orion dari Gedung Perakitan Kendaraan (Vehicle Assembly Building) menuju landasan peluncuran. Roket SLS tiba di Kompleks Peluncuran 36B di Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, sekitar 11,5 jam setelah meninggalkan gedung perakitan.

“Dalam beberapa hari ke depan, para insinyur dan teknisi akan mempersiapkan roket Artemis II untuk melaksanakan gladi bersih. Uji coba ini mencakup operasi pengisian bahan bakar dan prosedur hitung mundur,” ujar pejabat NASA.

“Akhir Januari, tim akan mengisi roket dengan propelan kriogenik, menjalankan hitung mundur, serta berlatih mengelola propelan dan roket dengan aman. Semua langkah ini sangat penting sebelum misi Artemis berawak pertama.”

Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung sekitar 10 hari dan bertujuan mempersiapkan pendaratan manusia di permukaan Bulan untuk pertama kalinya sejak era misi Apollo pada 1960-an dan 1970-an. Jika seluruh sistem dinyatakan siap, tanggal peluncuran paling awal diperkirakan jatuh pada Jumat, 6 Februari.

Selain kesiapan teknis, peluncuran juga bergantung pada posisi Bulan. Jendela peluncuran hanya tersedia sekitar satu minggu pada awal setiap bulan, diikuti jeda sekitar tiga minggu tanpa peluncuran. Sejumlah tanggal potensial telah disiapkan, yakni 6, 7, 8, 10, dan 11 Februari. Opsi lain tersedia pada 6, 7, 8, 9, dan 11 Maret, serta 1, 3, 4, 5, dan 6 April.

Artemis II akan membawa empat kru, terdiri dari Komandan NASA Reid Wiseman, pilot Victor Glover, serta dua spesialis misi, termasuk Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (Canadian Space Agency). Para astronot akan melakukan perjalanan melampaui sisi terjauh Bulan, yang berpotensi mencetak rekor jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dari Bumi, melampaui rekor misi Apollo 13.

Selama misi, kru akan menguji sistem pendukung kehidupan, propulsi, daya, dan navigasi kapsul Orion. Mereka juga akan berperan sebagai subjek uji medis, dengan mengirimkan data serta citra langsung dari deep space.

NASA menegaskan bahwa Artemis II tidak akan melakukan pendaratan di Bulan. Misi ini menjadi fondasi bagi Artemis III, yang ditargetkan sebagai misi pendaratan manusia di Bulan. NASA memperkirakan peluncuran Artemis III paling cepat dilakukan pada awal 2027, meski para ahli menilai 2028 sebagai waktu yang lebih realistis.

Hingga kini, wahana pendarat yang akan membawa kru ke permukaan Bulan belum ditetapkan, dengan dua kandidat utama yakni Starship milik SpaceX dan wahana dari Blue Origin. Selain itu, baju antariksa yang diproduksi oleh perusahaan Axiom Space juga belum sepenuhnya siap digunakan.

Jika Artemis III berhasil dilaksanakan, astronot akan mendarat di wilayah kutub selatan Bulan dengan tujuan membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan. Program Artemis selanjutnya, yakni Artemis IV dan V, akan mulai membangun Gateway, sebuah stasiun luar angkasa kecil yang mengorbit Bulan. Tahapan ini akan diikuti pendaratan lanjutan, penambahan modul Gateway, serta pengoperasian robot penjelajah.

NASA menegaskan program Artemis melibatkan banyak negara agar manusia dapat tinggal dan bekerja di Bulan dalam jangka waktu lebih lama. Misi terakhir manusia ke Bulan terjadi pada Apollo 17, yang mendarat pada 12 Desember 1972. Dari total 24 astronot yang pernah terbang ke Bulan dalam program Apollo, 12 di antaranya pernah berjalan di permukaan Bulan, dan kini hanya lima yang masih hidup.

Pada era 1960-an, Amerika Serikat mengirim manusia ke Bulan sebagai bagian dari persaingan geopolitik dengan Uni Soviet. Setelah tujuan tersebut tercapai, dukungan politik dan minat publik perlahan menurun. Program Artemis hadir dengan visi berbeda, yakni mengembalikan manusia ke Bulan untuk jangka panjang.

Sejumlah negara lain juga menunjukkan ambisi serupa. Astronot Eropa dan Jepang dijadwalkan bergabung dalam misi Artemis berikutnya. China tengah mengembangkan pesawatnya sendiri dan diprediksi akan melakukan pendaratan manusia di Bulan sekitar 2030. Rusia pun menyatakan rencana mengirim kosmonot dan membangun pangkalan kecil di Bulan antara 2030 hingga 2035.

India turut menargetkan misi berawak ke Bulan. Setelah sukses mendaratkan Chandrayaan-3 di dekat kutub selatan Bulan pada Agustus 2023, badan antariksa India menetapkan target pengiriman astronot ke Bulan sekitar tahun 2040.(Itqiyah_UINSA berkontribusi dalam penulisan ini)


 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.