MALANG (Lentera) -Kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang mengalami peningkatan pada tahun 2025. Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang periode puncak kasus DBD yang diperkirakan terjadi pada Maret hingga April.
"Setiap tahun DBD masih ada dan jumlahnya cukup besar. Memang di 2025 jumlahnya berkurang dari tahun 2024. Tetapi angkanya masih tinggi, artinya DBD masih menjadi ancaman kesehatan di Kota Malang," ujar Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan data, Husnul menyebut pada tahun 2023 hingga 2025, tercatat total 1.954 kasus DBD di Kota Malang. Dari jumlah tersebut, angka kematian akibat DBD justru mengalami kenaikan pada 2025.
Dirincinya, pada 2023 tercatat sebanyak 462 kasus DBD dengan 4 orang meninggal dunia. Jumlah kasus kemudian melonjak pada 2024 menjadi 777 kasus, dengan angka kematian tercatat sebanyak 4 orang. Sementara pada 2025, jumlah kasus menurun menjadi 715 kasus, namun angka kematian meningkat menjadi 5 orang.
Husnul menjelaskan, tren kasus DBD di Kota Malang juga menunjukkan pola musiman. Berdasarkan evaluasi Dinkes, puncak kasus DBD umumnya terjadi pada bulan Maret hingga April, seiring meningkatnya curah hujan yang memicu banyaknya genangan air bersih sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
"Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama di bulan Maret sampai April. Tahun kemarin, puncak DBD juga terjadi pada periode tersebut," jelasnya.
Dari sisi wilayah, Husnul menyebutkan Kecamatan Sukun tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Kota Malang. Pada 2024 dan 2025, jumlah kasus di kecamatan tersebut masing-masing mencapai 192 kasus, sehingga menjadi salah satu wilayah prioritas pengendalian DBD.
Lebih lanjut, untuk menekan kasus DBD, Husnul mengaku pihaknya terus menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menerapkan gerakan 3M Plus. Mulai dari menanam tanaman pengusir nyamuk, memeriksa tempat penampungan air secara rutin, memelihara ikan pemakan jentik, hingga menggunakan obat anti nyamuk.
"Kami juga sudah menginstruksikan 16 puskesmas dan 33 puskesmas pembantu (pustu) di Kota Malang untuk lebih aktif memberikan edukasi dan meningkatkan pemantauan lingkungan, terutama menjelang puncak kasus DBD," katanya.
Pasalnya hingga saat ini, menurutnya Angka Bebas Jentik (ABJ) masih berada di kisaran 92 persen, belum mencapai target ideal sebesar 95 persen. Selisih tersebut dinilai cukup signifikan dan berkontribusi terhadap masih ditemukannya kasus DBD.
"Selisihnya memang hanya sekitar tiga persen, tetapi dampaknya besar. Selama ABJ belum mencapai target, potensi penularan DBD masih tetap ada. Makanya kami optimalkan terus pencegahan melalui PSN dan 3M plus itu tadi," tegasnya.
Husnul menargetkan pada 2026 ini dapat terjadi penurunan signifikan kasus DBD. Melalui penguatan peran fasilitas kesehatan serta keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya PSN. "Pasti harus kita tekan di tahun 2026 ini dan jangan sampai kasus melonjak," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH




.jpg)
