MALANG (Lentera) - Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Malang menegaskan tidak akan tergesa-gesa terkait rencana merger atau penggabungan sekolah yang minim siswa. Saat ini, Dindik masih melakukan evaluasi menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk regulasi dan kondisi teknis di lapangan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Bagus Sulistyawan, mengatakan hingga kini pihaknya belum menetapkan sekolah mana saja yang akan dimerger pada tahun 2026 ini. Menurutnya, proses tersebut memerlukan kajian mendalam karena melibatkan banyak pertimbangan. "Masih kami evaluasi. Banyak pertimbangannya, nanti akan kami sampaikan lagi seperti apa hasilnya," ujar Bagus, Jumat (23/1/2026).
Dijelaskannya, evaluasi rencana merger sekolah tidak bisa dilakukan secara sederhana. Dindik Kabupaten Malang harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, terutama yang berkaitan dengan regulasi dan pengelolaan keuangan daerah.
"Untuk merger nanti kami akan koordinasi dengan instansi terkait. Karena ada beberapa regulasi yang perlu kami komunikasikan, misalnya dengan Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan instansi lainnya," jelasnya.
Terkait waktu pelaksanaan evaluasi, Bagus menyebut proses tersebut tidak bisa serta-merta dilakukan sebelum tahun ajaran baru 2026/2027 ini. Menurutnya, seluruh tahapan akan disesuaikan dengan kesiapan regulasi serta hasil koordinasi lintas sektor.
Salah satu sekolah yang belakangan menjadi sorotan adalah SDN 3 Toyomarto, Kecamatan Singosari, yang memiliki jumlah siswa relatif sedikit. Sekolah tersebut sempat dikunjungi Bupati Malang, Sanusi, beberapa hari lalu.
Namun, Bagus menegaskan hingga kini belum ada keputusan untuk melakukan merger terhadap sekolah tersebut. "Belum (dimerger). Nanti kami evaluasi dulu seperti apa. Secara geografis, sekolah itu memang agak jauh dari beberapa desa," ungkapnya.
Bagus menambahkan, Bupati Malang juga masih melakukan evaluasi terkait sarana dan prasarana (sarpras) penunjang yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di SDN 3 Toyomarto. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan optimal meski jumlah siswa terbatas.
Ke depan, pihaknya juga berencana melakukan komunikasi lebih lanjut dengan pihak sekolah dan para pengawas pendidikan. Pembahasan akan difokuskan pada solusi atas kendala jarak tempuh siswa dari desa sekitar menuju sekolah.
"Kira-kira bagaimana permasalahan jarak tempuh itu solusinya seperti apa. Apakah memungkinkan ada transportasi atau alternatif lain. Tapi itu masih nanti, akan kami evaluasi lebih lanjut," katanya.
Saat ini, jumlah peserta didik di SDN 3 Toyomarto tercatat sebanyak 46 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Meski demikian, Bagus menegaskan jumlah tersebut masih akan menjadi bagian dari evaluasi secara menyeluruh.
Sebelumnya, Bupati Malang, Sanusi, menyebutkan sekolah dasar yang memiliki jumlah peserta didik di bawah 60 orang akan dimerger dengan sekolah terdekat. Menurutnya, langkah merger sekolah dilakukan sebagai upaya efisiensi anggaran sekaligus untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan di Kabupaten Malang.
"Nanti harus dikaki dulu. Jarak sekolah, akses siswa, kemudian kesiapan sarana dan prasarana sekolah penerima juga harus menjadi pertimbangan," tegasnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)
