27 January 2026

Get In Touch

Pemerintah Lelang SUN Target Indikatif Rp33 Triliun 

Bakal Gelar Lelang SUN hari ini Selasa (20/1/2026), Pemerintah incar dana Rp33 Triliun.
Bakal Gelar Lelang SUN hari ini Selasa (20/1/2026), Pemerintah incar dana Rp33 Triliun.

JAKARTA (Lentera) - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali membidik pembiayaan melalui melelang Surat Utang Ngeara (SUN) dengan target indikatif senilai Rp33 triliun hari ini, Selasa (20/1/2026). 

Melansir pengumuman dari laman resmi DJPPR, pemerintah bakal menggelar lelang terhadap sembilan seri SUN. Tiga dari seri tersebut merupakan surat utang bertenor pendek dan enam lainnya memiliki tenor panjang.

Tiga seri SUN bertenor pendek yang diterbitkan pemerintah dalam lelang kali ini antara lain SPN01260221 (New Issuance), SPN12260423 (Reopening), dan SPN12270107 (Reopening). Ketiga seri ini menawarkan tenor masing-masing 1 bulan, 3 bulan, dan 12 bulan, dengan tingkat imbal hasil diskonto.

Sementara itu, enam seri lainnya yang memiliki tenor lima tahun atau lebih, antara lain FR0109 (Reopening), FR0108 (Reopening), FR0106 (Reopening), FR0107 (Reopening), FR0102 (Reopening), dan FR0105 (Reopening).

FR0109 memiliki maturity date terpendek pada seri Obligasi Negara, dengan tenggat jatuh tempo pada 15 Maret 2031. Produk ini sekaligus menawarkan imbal hasil terkecil yaitu 5,87%. Sementara itu, FR0105 memiliki tenggat jatuh tempo terpanjang pada 15 Juli 2064 dan menawarkan kupon sebesar 6,87%.

Meskipun begitu, produk dengan tingkat kupon terbesar justru digenggam oleh FR0106 dan FR0107 sebesar 7,125%. Kedua produk ini jatuh tempo masing-masing pada 15 Agustus 2040 dan 15 Agustus 2045.

Adapun dua produk lainnya FR0108 dan FR0102 memiliki tenggat jatuh tempo masing-masing pada 15 April 2036 dan 15 Juli 2054. Kedua produk ini menawarkan imbal hasil sebesar 6,50% dan 6,87%, dengan tingkat imbal hasil lebih kecil digenggam oleh FR0108.

“Target indikatif Rp33 triliun dengan target maksimal 150% dari target indikatif,” tulis pengumuman dalam laman resmi DJPPR, dikutip Selasa (20/1/2026) melansir msc.

Adapun lelang besok akan dilaksanakan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka dan menggunakan metode harga beragam.

Rentang jatuh tempo yang lebar ini menunjukkan upaya negara menjaga fleksibilitas pembiayaan, antara memenuhi kebutuhan kas jangka pendek, dan tetap mengunci pendanaan jangka panjang dengan nilai kupon tetap. 

Melansir bloombergtechnoz melaporkan agaknya pemerintah sedang memberi sinyal kepercayaan diri terhadap stabilitas makro jangka panjang kepada pasar dengan penerbitan seri tenor panjang seperti FR0105 dan FR0102. 

Kupon atau imbal hasil yang ditawarkan di kisaran 6,87-7,12% mencerminkan sikap kompromi pemerintah antara menawarkan daya tarik kepada investor dengan imbal hasil tinggi di tengah kondisi ekonomi saat ini, dengan tetap memperhitungkan kondisi fiskal. 

Komposisi peserta lelang yang menjadi dealer utama didominasi oleh bank besar, sekuritas utama, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan. Seperti, Citibank, Deutsche Bank, Bank HSBC Indonesia, Bank BCA, Bank Danamon, Maybank Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank OCBC NISP, Bank Panin, Bank Rakyat Indonesia, Bank Permata, Bank CIMB Niaga, Bank ANZ Indonesia, Standard Chartered Bank, JP Morgan Chase Bank, BRI Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas Indonesia, dan Bank Tabungan Negara. (*)

 

Editor : Lutfiyu Handi/berbagai sumber

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.