22 January 2026

Get In Touch

Pelajar Surabaya Olah Kulit Bawang Putih Jadi Tinta dan Sabun Ramah Lingkungan

Raihan Jouzu Syamsudin
Raihan Jouzu Syamsudin

SURABAYA (Lentera) -Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, berhasil mengolah limbah kulit bawang putih menjadi tinta spidol, eco enzyme, hingga sabun cair. Proyek pengolahan produk ramah lingkungan itu telah dijalankan Raihan sejak Februari 2024.

Inovasi tersebut berawal dari keikutsertaannya dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Raihan berhasil meraih predikat Pangeran II Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024. 

Ia menuturkan, ketertarikannya mengolah limbah kulit bawang putih muncul saat mengikuti ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup. “Saya melihat kulit bawang putih selama ini dianggap tidak bernilai, padahal bisa dimanfaatkan,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Pada tahap awal, Raihan mengolah kulit bawang putih menjadi tinta spidol ramah lingkungan. Seiring waktu, jumlah limbah yang berhasil dikumpulkan terus bertambah hingga mencapai sekitar 3,12 ton. 

Dari situ, ia mengembangkan inovasi lanjutan berupa eco enzyme dan sabun cair.

Raihan menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, produksi bawang putih nasional mencapai sekitar 81.805 ton per tahun, yang berbanding lurus dengan besarnya limbah kulit bawang putih. 

"Dari hasil riset, kulit bawang putih yang dibakar secara tertutup itu menghasilkan black carbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif tinta spidol," jelasnya.

Selain itu, kulit bawang putih yang lembap atau berjamur diolah menjadi eco enzyme, kemudian dikembangkan lagi menjadi sabun cair ramah lingkungan tanpa bahan pembusa berlebihan.

"Produk saya ini telah dipasarkan melalui pameran lingkungan, kegiatan komunitas, hingga toko daring. Respons masyarakat juga positif, terutama terhadap eco enzyme dan sabun cair," tuturnya.

Meski ajang lomba telah berakhir, Raihan memastikan proyeknya terus berjalan. Hasil penjualan produk digunakan kembali untuk pengembangan inovasi, sekaligus menjadi tambahan uang saku. 

Saat ini, tinta spidol ukuran 30 mililiter dijual seharga Rp15.000 per botol, sedangkan sabun cair 250 mililiter dipasarkan Rp10.000 per botol.

Menariknya, inovasi Raihan tersebut mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya yang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) untuk pengembangannya.

Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan inovasi Raihan sejalan dengan komitmen Dispendik dalam menumbuhkan pola pikir kreatif dan inovatif peserta didik sejak dini.

“Ini bagian dari upaya kami mengedukasi anak-anak agar kepekaan dan daya pikir kreatifnya terus terasah. Dispendik rutin menggelar lomba karya ilmiah dan penelitian untuk melatih kemampuan berpikir inovatif siswa,” ujar Febrina.

Ia juga mengapresiasi Raihan yang dinilai mampu melampaui pola pengolahan limbah pada umumnya. Menurutnya, pengolahan sampah organik sering kali berhenti pada pembuatan kompos, sementara Raihan mampu melihat potensi lanjutan dari limbah kulit bawang putih.

Febrina menambahkan, Dispendik membuka ruang kolaborasi dengan BRIDA Kota Surabaya agar inovasi pelajar memiliki jalur pengembangan yang berkelanjutan.

“Dengan hadirnya BRIDA, peluang kolaborasi semakin luas. Ini penting agar inovasi anak-anak tidak berhenti di lomba, tetapi bisa terus berkembang,” tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.