MALANG (Lentera) - Rasa takut mengetahui penyakit menjadi alasan rendahnya partisipasi warga dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Malang, akibatnya hingga akhir tahun 2025 capaian pemeriksaan kesehatan tersebut baru menjangkau 22 persen dari total penduduk.
"Capaian Cek Kesehatan Gratis di Kota Malang ini kan masih proses, ya. Jadi di kami baru 22 persen sepanjang 2025 kemarin. 22 persen itu dari seluruh jumlah sasaran. Kan sasarannya semua penduduk," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, Senin (13/1/2026).
Dijelaskannya, capaian 22 persen tersebut setara dengan hampir 200 ribu warga. Angka itu diperoleh dari total jumlah penduduk Kota Malang yang mencapai sekitar 900 ribu jiwa. "Kalau 22 persen itu dikalikan 900 ribu jumlah penduduk Kota Malang, berarti hampir 200 ribuan," jelasnya.
Husnul menambahkan, capaian tersebut sudah mencakup seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yang jumlahnya sekitar 11 ribu orang. Selain itu, anak-anak sekolah juga sudah termasuk dalam pelaksanaan CKG.
Lebih lanjut, terkait masih rendahnya partisipasi masyarakat, Husnul menyebut salah satu kendala adalah minimnya kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, meski layanan CKG mudah diakses dan diberikan secara gratis.
"Kecenderungan masyarakat memang masih belum sadar penuh untuk cek kesehatannya. Padahal aksesnya mudah. Di beberapa wilayah, kami lihat ada ketakutan bertemu penyakit," ungkap Husnul.
Menurutnya, sebagian masyarakat masih memiliki kekhawatiran jika hasil pemeriksaan justru menemukan penyakit tertentu, yang dikhawatirkan akan berdampak pada kondisi psikologis maupun biaya pengobatan ke depan.
"Ya, alasannya banyak yang takut kalau periksa ketemu sakit apa dan bagaimana. Padahal sudah kami sampaikan, kalau diperiksa dan ketemu penyakitnya, justru itu deteksi lebih awal. Penanganannya bisa lebih cepat," tegasnya.
Dari hasil CKG yang telah dilakukan, Dinkes Kota Malang mencatat mayoritas diagnosis yang ditemukan merupakan penyakit tidak menular. Di antaranya hipertensi dan gangguan kadar gula darah.
Husnul memastikan, meski CKG bersifat pemeriksaan kesehatan dasar, masyarakat tetap akan mendapatkan tindak lanjut apabila ditemukan indikasi penyakit tertentu. Dinkes akan memberikan rujukan ke rumah sakit terdekat sesuai domisili warga.
Sementara itu, untuk meningkatkan capaian hingga mendekati 100 persen, Husnul mengaku terus melakukan berbagai upaya jemput bola. Termasuk pelaksanaan CKG yang kini dilakukan di berbagai lini pelayanan masyarakat.
"Kemudian pada event-event nanti seperti Car Free Day juga akan kami lakukan CKG," paparnya.
Langkah proaktif tersebut dilakukan karena jika hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, sambungnya, capaian CKG dikhawatirkan akan berjalan lambat dan sulit menembus angka partisipasi tinggi.
"Kalau menunggu datangnya masyarakat, sepertinya untuk mencapai 70 persen saja agak lama. Jadi kami harus proaktif," tambahnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)
