SURABAYA ( LENTERA ) - Kebangkitan Planetarium Jakarta menandai berakhirnya masa renovasi panjang selama 13 tahun. Kehadirannya disambut antusias masyarakat, khususnya pelajar dan keluarga, yang selama ini menantikan kembalinya salah satu ikon wisata edukasi sains di Ibu Kota.
Antusiasme tersebut semakin terasa setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menetapkan kebijakan pembebasan tiket masuk bagi pelajar selama tiga bulan ke depan.
Dalam kunjungannya ke kawasan TIM, Pramono menyampaikan rasa syukur atas kembali beroperasinya Planetarium Jakarta bersamaan dengan Paviliun Raden Saleh. Menurutnya, kedua fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjadikan TIM sebagai pusat seni, budaya, dan ilmu pengetahuan yang inklusif bagi masyarakat.
Planetarium Jakarta sendiri merupakan bangunan berbentuk teater kubah yang dirancang khusus untuk menyajikan pertunjukan astronomi. Melalui teknologi proyeksi canggih, pengunjung diajak menjelajahi angkasa, mengenal benda-benda langit, serta memahami berbagai fenomena astronomi seolah menyaksikan langsung langit malam yang sesungguhnya.
Daya tarik utama Planetarium terletak pada Teater Bintang, sebuah ruang pertunjukan berkubah besar yang menawarkan pengalaman visual imersif. Dalam durasi sekitar 50 hingga 60 menit, pengunjung dapat menyaksikan simulasi pergerakan bintang, planet, meteor, hingga berbagai fenomena kosmik lainnya. Materi pertunjukan mencakup proses terbentuknya tata surya, gerhana matahari dan bulan, hingga siklus kehidupan bintang.
Untuk pengunjung individu, jadwal pertunjukan Teater Bintang umumnya tersedia pada akhir pekan, dengan dua sesi utama pada pukul 10.00 WIB dan 14.00 WIB. Sementara pada hari kerja, Planetarium lebih memprioritaskan kunjungan rombongan, seperti sekolah dan institusi pendidikan.
Tak hanya menyuguhkan pertunjukan visual, Planetarium Jakarta juga dilengkapi Observatorium yang memungkinkan pengunjung melakukan pengamatan langsung terhadap benda-benda langit. Berbagai instrumen astronomi tersedia, mulai dari Teleskop ASKO reflektor berdiameter 31 sentimeter yang kerap digunakan untuk penelitian dan penentuan hilal Idulfitri, hingga Teleskop Takahashi dan Teleskop Coude.
Selain teleskop permanen, pengelola juga menyediakan sejumlah teleskop portabel yang dapat digunakan dalam kegiatan peneropongan rutin maupun saat terjadi fenomena astronomi tertentu.
Fasilitas lain yang tak kalah menarik adalah ruang pameran dan edukasi astronomi. Area ini menampilkan beragam koleksi edukatif, mulai dari alat observasi, galeri foto benda langit, pakaian luar angkasa, hingga fragmen batu meteor asli.
Diorama, poster, dan panel informasi tentang galaksi serta tata surya menjadikan ruang pameran ini sebagai sarana belajar yang ideal bagi pelajar maupun masyarakat umum.
Sebagai destinasi wisata publik, Planetarium Jakarta juga menyediakan fasilitas pendukung yang memadai. Area parkir luas, termasuk untuk bus rombongan, fasilitas toilet yang terawat, serta ruang tunggu berpendingin udara menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan pengunjung. Sambil menunggu jadwal pertunjukan, pengunjung dapat menikmati tayangan film edukatif bertema astronomi.
Menariknya, Planetarium Jakarta kini juga mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari inovasi layanan. Salah satu terobosan terbarunya adalah kehadiran AI Virtual Host, pemandu digital berbasis AI yang menyampaikan informasi seputar astronomi dan sejarah Planetarium secara interaktif. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih dinamis dan menarik, terutama bagi generasi muda.
Dari sisi aksesibilitas, tingginya minat masyarakat membuat tiket pertunjukan Planetarium kerap habis terjual dalam waktu singkat. Untuk mengatur kunjungan, pendaftaran tiket dilakukan secara daring melalui akun resmi media sosial TIM Cikini. Pengunjung diwajibkan melakukan registrasi terlebih dahulu karena kuota setiap sesi sangat terbatas.
Selama masa promosi pembukaan kembali, pengelola menetapkan harga tiket yang relatif terjangkau. Tiket untuk masyarakat umum dibanderol Rp10.000, berlaku hingga April 2026. Sementara itu, pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) maupun pelajar dari luar Jakarta dapat menikmati pertunjukan secara gratis dengan menunjukkan kartu pelajar asli.
Jejak Sejarah
Planetarium dan Observatorium Jakarta dibangun pada September 1964 oleh Pemerintah Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno.
Bung Karno ingin masyarakat Indonesia mengenal benda-benda langit, tata surya, galaksi, fenomena alam, dan sebagainya.
Planetarium mulai dibangun pada 9 September 1964 dengan bantuan dana dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia.
Pembangunan sempat terhenti karena peristiwa G30S PKI dan baru dilanjutkan oleh Pemprov DKI Jakarta pada 1967.
Planetarium lalu diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 10 November 1967, bersamaan dengan peresmian Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.
Meski begitu, Planetarium baru dibuka untuk umum pada 1 Maret 1969. Tanggal itu yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Planetarium dan Observatorium Jakarta.
Saat itu, Planetarium Jakarta merupakan yang terbesar di dunia dengan kapasitas 500 kursi.
Kembalinya Planetarium Jakarta bukan sekadar membuka kembali objek wisata, tetapi juga menghidupkan ruang belajar sains yang selama ini dirindukan. Dengan fasilitas modern, pendekatan teknologi mutakhir, serta kebijakan harga yang ramah pengunjung, Planetarium Jakarta kembali menegaskan posisinya sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Ibu Kota.(gus,ist/dya)





.jpg)
