12 January 2026

Get In Touch

Dinkes Kota Malang Lacak Potensi Superflu Lewat 2 Faskes, Imbau Kembali Penggunaan Masker

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang tengah melacak potensi kasus superflu atau influenza A (H3N2) subclade K melalui dua fasilitas kesehatan (faskes) sentinel di Kota Malang, serta mengimbau masyarakat kembali menggunakan masker terutama saat beraktivitas di tempat ramai.

Upaya ini dilakukan menyusul terdeteksinya kasus superflu secara nasional sejak Agustus 2025, dan hingga akhir Desember 2025 sebanyak 62 kasus ditemukan di 8 provinsi. Dengan tiga provinsi terbanyak jumlahnya, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif mengatakan dua faskes sentinel tersebut masing-masing menangani pemantauan Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).

"Untuk ILI, itu ada di Puskesmas Dinoyo, sementara untuk SARI atau infeksi yang berat, dipantau melalui RSUD Saiful Anwar (RSSA). Dua tempat tersebut secara rutin mengirimkan sampel pemeriksaan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya," ujar Husnul, dikonfirmasi melalui sambungan selular, Senin (5/1/2026).

Dijelaskannya, Dinkes saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium selama periode Juli hingga Desember 2025, untuk memastikan apakah sudah ada deteksi influenza A (H3N2) subclade K atau superflu di wilayah Kota Malang.

"Jadi akan kami koordinasikan dulu, nanti kalau ada beberapa hal info terbaru, akan kami sampaikan," katanya.

Husnul menegaskan, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait temuan kasus suspek superflu di Kota Malang. Namun, ia mengingatkan gejala suspek kerap menyerupai flu biasa, meski tingkat keparahannya cenderung lebih berat.

"Suspek itu gejalanya hampir sama dengan flu biasa, hanya saja kondisinya lebih berat. Di atasnya ada kategori probable, yakni suspek dengan tambahan gejala tertentu. Sedangkan kasus yang terkonfirmasi baru bisa dipastikan melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS)," jelasnya.

Lebih lanjut, Husnul menjelaskan superflu pada dasarnya merupakan virus influenza A yang mengalami mutasi menjadi H3N2, sehingga memicu gejala yang lebih berat dibanding flu musiman pada umumnya.

"Biasanya penderita mengalami penurunan kondisi tubuh yang cukup drastis, nyeri badan, sulit beraktivitas, bahkan gangguan pernapasan akibat lendir yang berlebihan," ungkapnya.

Selain faktor mutasi virus, Husnul menyebut cuaca ekstrem turut berperan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Namun demikian, ia menegaskan faktor utama tetap berasal dari mutasi virus itu sendiri. "Ditambah lagi, gaya hidup dan kebiasaan masyarakat, terutama penggunaan masker yang mulai jarang, juga berpengaruh," ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya kembali mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, khususnya saat beraktivitas di luar rumah maupun di ruang tertutup dengan banyak orang. Selain itu, masyarakat juga diminta rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menjaga asupan gizi seimbang.

"Masyarakat tidak perlu ketakutan. Tetapi perlu waspada. Kalau ada keluhan kesehatan, jangan menunda. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa cepat tertangani," imbuhnya.

Dalam hal ini, Dinkes juga mengoptimalkan layanan di 16 puskesmas, 33 puskesmas pembantu (pustu), serta 642 posyandu yang aktif dan dapat diakses masyarakat.

"Tenaga kesehatan kami, baik dokter, perawat, maupun bidan, sudah kami informasikan untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat terkait flu, virus yang bermutasi menjadi superflu, serta langkah-langkah pencegahan agar risiko penularan bisa diminimalkan," pungkas Husnul.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.