01 September 2025

Get In Touch

Pesan Para Wanita untuk Negeri Tercinta

Rombongan anak-anak dari Lagalete dan Marokot Nusa Tenggara Timur, melintas ladang jagung di Klimbu Ngaa Banga (Maria Dian Andriana)
Rombongan anak-anak dari Lagalete dan Marokot Nusa Tenggara Timur, melintas ladang jagung di Klimbu Ngaa Banga (Maria Dian Andriana)

KOLOM (Lentera) -"Haaalo, haaalo, haaalo," Itu adalah sapaan khas beberapa gadis remaja usia Sekolah Menengah Pertama di teras belakang rumahku, Desa Klimbu Ngaa Banga, Weetabula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. 

Tidak seperti layaknya suara orang Indonesia Timur yg biasanya keras. Volume suara mereka pelan, nyaris tak terdengar.

Beruntung rumahku masih dikelilingi hutan, sehingga suara lemah mereka masih tertangkap telinga tuaku. 

Saat musim penghujan atau awal musim kemarau tiba, para gadis itu biasanya datang seminggu tiga kali ke rumah untuk menjual sayur hasil kebun orang tua mereka. 

Mereka mengatakan tidak sekolah, saat kutanya mengapa datang ke rumah. 

Lalu kenapa tidak sekolah? Ada yg bilang sekolah libur karena guru rapat dan lainnya. 

Saat puncak musim kemarau seperti bulan Oktober dan November, mereka belum tentu datang untuk menjajakan sayur.

Kadang aku merasa kehilangan wajah mereka. Aku hanya berdoa dan  berharap mereka aman, sehat dan sekolah. 

Bagi orandi luar NTT, harap dipahamii saat kemarau, ladang mungkin tidak terairi dan dibiarkan menganggur. 

Umumnya mereka berjalan dengan kaki dari rumahnya di desa Marokot dan Lagalete, kecamatan Wewewa.

Yang menarikl kepalanya memikul ember besar berisi sayur seperti pucuk daun labu, daun dan bunga papaya. Kadang singkong dan daun singkong, keladi, labu, tomat, cabe, bahkan ayam hidup dan lainnya. 

Saat kutanya kenapa tidak memakai sandal, mereka menjawab sandal justru menyusahkan jalan mereka.

"Licin Bapa," katanya. 

"Kaki idak panas?" tanyaku. 

"Sudah biasa", jawab mereka. 

Aku tak tahu pasti berapa jarak rumah mereka ke rumahku. 

Namun, bila melalui jalan raya kabupaten jaraknya sekitar 40 kilometer. Para gadis ini menuju Weetabula sebagai pusat ekonomi di sini dengan jalan pintas menembus tiga bukit dan hutan jati di desa Watu Kawula yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer sisi barat rumahku. 

Saat transaksi sering mereka tidak mau menerima uang dan minta dibayar dengan beras.

Oleh karena itu, selain mermbeli sayuran, istriku memberi mereka makan. 

Selama delapan tahun lebih, aku tinggal di Sumba, tak ada perubahan pada komoditas mereka. 

Aku jug sering meminta kepada mereka agar mengolah produk padang mereja supaya ada terjadi perubahan harga. 

Mungkin kondisi dan situasi tidak memungkinkan. Mereka melakukan pemikiran tentang semimanufaktur. 

... 

Komoditas yang dibawa anak-anak desa Lagalete dan Marokot, Sumba Barat Daya, NTT
Komoditas yang dibawa anak-anak desa Lagalete dan Marokot, Sumba Barat Daya, NTT

Sudah beberapa hari ini aku kembali ke rumah di Bekasi. Secara kebetulan melintas seorang ibu penjual sayur. 

Komoditas yang ditempatkan pada berbagai kantung plastik tersebut diletakan pada bagian kemudi dan boncengan sepeda.

Ibu yang berasal dari Indramayu itu sudah kukenal jauh sebelum aku pindah ke Sumba. 

Gaya bicara, komoditas dan sepedanya tetap sama seperti sebelum kutinggalkan Bekasi.

Tiba-tiba aku teringat para gadis kecil di sumba yang sering kubantu.

Ibu di Bekasi ini terkadang kubantu memperbaiki rantai sepeda, ban sepeda atau memberinya tas untuk mengganti  tasnya yang sobek atau kekecilan.

... 

Aku terpekur. Menagapa tidak terjadi perubahan pada ibu Indramayu yang berdagang sayur di Bekasi dan para gadis di Sumba. 

Aku bertanya-tanya, apakah keadaan mereka  seperti saat ini adalah wujud ketidakberdayaan wanita? 

Namun, bukan ini menunjukkan ketidakberdayaan. Bukannya merupakan keasjivan yang berdaya untuk membuat mereka menjadi berdaya. 

Aku tidak percaya bahwa ibu di Indramayu dan gadis Mari kita dan Lagalete itu tidak berdaya.

Justru di tangan wanitalah kelangsungan tradisi akan berlanjut. 

Akan kah kita mempertaruhkan kelangsungan anak-anak dengan mengabaikan ibu Indramayu dan gadis kecil di Sumba? 

Pesan menyentuh para panita untuk Negeri Tercinta

Salam.

Penulis: Eko Wienarto, wartawan dan penulis lepas|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.