
KOLOM (Lenteratoday) -Seorang pedagang es teh dihina oleh seorang figur publik. Masyarakat pun bereaksi. Mereka melihat hinaan itu sangat tidak pantas. Mengapa pedagang es berada di tempat itu dan juga di berbagai tempat? Ternyata mereka bagian dari usaha atau bisnis yang tidak kecil. Es teh juga telah menjadi tren bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia.
Nilai bisnis es teh di Indonesia tidak diketahui secara persis. Akan tetapi, di Amerika Serikat, bisnis ini pada 2023 mencapai 6,47 miliar dollar AS dan 10 tahun kemudian atau tahun 2033 diperkirakan mencapai 12,02 miliar dollar AS atau tumbuh sekitar 6,4 persen. Angka yang sangat besar.
Mengapa es teh merupakan bisnis yang besar? Di laman MetaBrand disebutkan bahwa es teh merupakan minuman dingin yang dibuat dengan menyeduh daun teh dalam air panas. Kemudian langkah berikutnya yaitu menambahkan es batu atau mendinginkan seduhan teh di lemari es. Teh ini dapat dimaniskan dengan gula, madu, atau pemanis buatan dan biasanya disajikan dengan es di gelas.
Pameran Dunia 1904 di St Louis, Negara Bagian Missouri, dianggap sebagai pelopor pemopuleran teh dingin di Amerika Serikat. Di pameran tersebut, Richard Blechynden, seorang pedagang dan pemilik perkebunan teh, mencari cara untuk mendinginkan teh panas yang disajikannya kepada pengunjung pameran. Ia menambahkan es batu ke dalam teh dan orang-orang menyukainya sehingga penjualannya meningkat.
Sekarang es teh menjadi bisnis yang besar karena berkaitan dengan gaya hidup. Orang mencari minuman yang sehat. Es teh dianggap memberi rasa segar dan dianggap lebih sehat. Es teh menjadi lebih mudah ditemukan di kafe-kafe dan juga warung.
Cuaca yang panas juga menjadi bisnis ini berkembang. Di Indonesia setidaknya terdapat 10 waralaba es teh yang terkenal meski kita juga tetap harus memastikan faktor ”sehat” dari minuman-minuman yang diproduksi.
Perusahaan pewaralaba menawarkan paket-paket bisnis untuk mereka yang ingin bergabung atau disebut mitra waralaba mengembangkan bisnis es teh. Dari berbagai waralaba ini, perusahaan menawarkan paket Rp 5 juta sampai Rp 30 juta.
Mitra waralaba akan mendapatkan berbagai fasilitas, peralatan, dan bahan-bahan untuk jumlah porsi tertentu. Salah satu yang penting bagi orang yang ingin menjadi mitra waralaba ialah membaca perjanjian dengan perusahaan waralaba agar mengetahui secara persis syarat dan ketentuan.
Menjaga planet
Perkembangan di Amerika Serikat mungkin bisa diadopsi pebisnis Indonesia. Laporan Forbes menyebutkan, selama satu dekade terakhir, konsumen semakin berkomitmen untuk menjaga planet ini tetap layak huni. Mereka semakin banyak menggunakan dompet mereka untuk mewujudkan ide tersebut. Merek-merek yang sejalan dengan mereka—atau lebih baik lagi—akan memimpin dalam perjuangan eksistensial dan bakal terus bertahan.
Ada merek yang tetap setia dengan nilai-nilai itu. Meski Coca-Cola mengakuisisi Honest Tea pada 2011, merek tersebut tetap setia pada nilai-nilai yang telah diluncurkannya pada 1998 dan melalui kisah suksesnya. Merek tersebut terus menggunakan bahan-bahan organik, mengadopsi label Fair Trade, dan berupaya mengurangi jejak lingkungannya.
Sementara itu, pendiri Honest Tea kemudian membikin perusahaan baru. Mereka juga memimpin inovasi di Eat the Change. Mereka langsung bertindak. Dalam waktu tiga bulan setelah mengetahui bahwa merek kesayangan mereka akan segera berakhir, mereka mengumumkan masuknya perusahaan mereka secara resmi ke pasar minuman teh.
Just Ice Tea, merek es teh organik, berada di bawah label Eat the Change. Mereka berfokus pada pengadaan bahan-bahan sederhana dan teh serta pemanis bersertifikat Fair Tradel. Dengan nilai-nilai ini, mereka langsung memimpin pasar es teh. Kuncinya? Mereka sudah memiliki tim dan rantai pasokan yang siap. Mereka menegaskan bahwa Just Ice Tea bukanlah perusahaan rintisan yang main bakar uang. Mereka mengakui bahwa waktu penyelesaian yang singkat dari inspirasi hingga penjualan ke toko-toko bagi merek baru itu sangat mengesankan. Tiga bulan (*)
Editor: Arifin BH/Kompas