05 April 2025

Get In Touch

Lika-Liku Karier Whisnu Santika, Manggung Dibayar Ucapan Terima Kasih

DJ sekaligus produser musik, Whisnu Santika. (Instagram/@whisnusantika)
DJ sekaligus produser musik, Whisnu Santika. (Instagram/@whisnusantika)

JAKARTA (Lenteratoday) - Rasa-rasanya jarang mendengar seorang musisi Electronic Dance Music (EDM) melahirkan musik, berubah jadi genre, hingga mencapai popularitas yang fenomenal. Namun, Indonesia perlu bangga karena punya Whisnu Santika.

Kepiawaiannya dalam meracik tempo, beats, dan melodi, menghasilkan karya yang sangat harmonis. Sebut saja lagu-lagu populer seperti Sahara, Tequilla, Cartel, hingga Mambo Jambo.

Lagu-lagu itu membuat penonton melantai bersama dan tak pernah absen dari kemeriahan set DJ di klub malam Jakarta.

"Gue suka Deepflow, gue suka Major Lazer. Sehingga ketika berkarya, gue coba mengadaptasi musik mereka. Pakai sound dan beat mereka. Mereka sudah familiar di luar negeri sana," kata Whisnu Santika kepada kumparan, belum lama ini.

Whisnu tak ingin EDM Indonesia mentok di satu titik. Demi membawa kebaruan, disjoki berusia 32 tahun itu mendahulukan perkembangan dalam mengasah kerativitasnya.

"Jadi, musik harus berkembang. Visual juga harus. Kita pelaku seni harus terus mengasah kreativitas biar enggak monoton," tutur Whisnu.

Dengan cara tersebut, Whisnu menjejali para pecinta EDM dengan Indo Bounce, sebuah genre EDM yang easy listening, catchy, dan sangat mudah membuat penonton melantai.

Single terbaru Whisnu, Mi Casa, bisa disebut sebagai contoh karya yang menggambarkan perpaduan Indo Bounce dan genre lainnya. Menurutnya hal ini penting untuk membuat EDM Indonesia semakin dinamis.

"Sebagai contoh, Mi Casa itu Indo Bounce, tapi aku coba masukin ramuan baru. Aku coba melihat di luar Indonesia, trennya seperti apa. Oke, aku cari tengah-tengahnya. Indo Bounce sama apa yang terkenal di luar," ucap Whisnu.

Hasil kerja keras Whisnu dibayar mahal. Dia menjadi musisi Indonesia satu-satunya yang hadir di gelaran Tomorrowland Festival Belgia 2024. Sederet piala pun telah diraihnya dan musiknya semakin mendunia.

"Gue nggak pernah sangka, Indo Bounce jadi begini. Tapi gue orangnya well-planned," ujarnya.

Menariknya, teori konspirasi membuat otak Whisnu semakin kreatif dalam berkarya. Dia sering meluangkan waktu menonton teori konspirasi, yang kadang mempermudahnya menghasilkan ide kreatif dalam bermusik.

"Kalau aku, lebih banyak nonton teori konspirasi. Aku orangnya suka menganalisa. Aku suka banget nonton teori konspirasi apa pun. Aku suka menganalisa jadi otakku enggak boleh diam. Terus menerus berpikir. Seru jadinya," ucap Whisnu.

Momen Terendah Whisnu Santika dalam Karier Musik

Kesuksesan Whisnu saat ini tak lepas dari perjalanannya yang penuh tantangan. Whisnu mengaku pernah tidak dibayar saat manggung, hingga tak ada penonton yang menyaksikannya.

"Momen terendah, sebelumnya pasti mengalami struggle masing-masing. Momen terendah aku, mungkin lebih ke arah, gue harus lewati fase orang enggak mau nonton gue perform. Pernah juga dibayar terima kasih aja," ujar Whisnu.
Whisnu tak ingin menyebutnya momen terendah, melainkan sebuah rangkaian proses yang harus ia lewati. "Itu proses, step by step yang harus gue lewati," imbuhnya.

Festival musik elektronik Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024 hari kedua menjadi saksi kemeriahan musik Whisnu Santika. Tampil di panggung utama Garuda Land Stage, Whisnu membuktikan bahwa EDM Indonesia juga punya sihir yang tak kalah dari negara lain.

"Aku mencoba menghadirkan sesuatu yang baru. Ditambah DWP tahun ini menghadirkan LED yang cukup besar. Jadi, oke, kita harus berpikir gimana caranya bisa fit sama DWP tahun ini," ungkap Whisnu.

Kemeriahan panggung Whisnu Santika dilengkapi dengan kehadiran Cinta Laura. Cinta percaya diri tampil mengenakan atasan dan bawahan yang minim. Dia membawakan lagu barunya, Mi Casa, hasil kolaborasi dengan Whisnu Santika dan Liquid Silva.

"Deg-degan banget saat dia tampil. Persiapannya cukup mepet. Dari menulis lagu, dan lainnya. Segala sesuatu cukup mepet. Makanya deg-degan, happy, campur aduk, pokoknya," kata Whisnu menjelaskan perasaannya saat Cinta naik ke panggung.

Ke depannya, Whisnu bakal terus meracik musik lewat sebuah proyek yang ia panggil "Whisnu 2.0". Istilah itu perdana dihadirkan oleh Whisnu lewat musiknya di DWP 2024 dan siap menjadi anthem para pecinta EDM, di mana pun mereka berada.

Berbagai Pencapaian di Dunia Musik

Whisnu Santika telah berhasil tampil di berbagai acara musik bergengsi di dunia. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah berhasil tampil di Tomorrowland Belgium, festival musik elektronik terbesar di dunia, pada tahun 2024. Whisnu Santika juga pernah tampil di Ultra Music Festival di Miami, Amerika Serikat, pada tahun 2019.

Ultra Music Festival adalah salah satu festival musik elektronik terbesar di Amerika Serikat yang dihadiri ratusan ribu penonton setiap tahunnya. Keberhasilan Whisnu Santika tampil di festival musik sekelas Tomorrowland dan Ultra Music Festival menunjukkan kualitas dan bakatnya sebagai DJ di kancah internasional.

Berkolaborasi dengan Musisi Internasional

Whisnu Santika juga dikenal sering berkolaborasi dengan musisi internasional. Salah satu kolaborasinya yang paling terkenal adalah bersama DJ asal Skotlandia, Calvin Harris, pada tahun 2020. Lagu hasil kolaborasi mereka berjudul “Looking for Me” sukses menduduki posisi pertama di tangga lagu di Inggris.

Kolaborasi dengan Calvin Harris membuka jalan Whisnu Santika untuk berkolaborasi dengan musisi elektronik ternama lainnya seperti Avicii, Swedish House Mafia, dan David Guetta. Kesempatan berkolaborasi dengan musisi kelas dunia ini menjadi salah satu pencapaian gemilang di karier Whisnu Santika sebagai DJ.

Menciptakan Sejarah di Musik Indonesia

Berkat bakat dan kerja kerasnya, Whisnu Santika berhasil menciptakan sejarah sebagai DJ Indonesia pertama yang tampil dan berkolaborasi di berbagai acara musik kelas dunia. Keberhasilannya ini telah membuktikan bahwa musisi Indonesia mampu bersaing di kancah musik internasional. Whisnu Santika telah menjadi panutan dan inspirasinya bagi musisi elektronik muda di Indonesia.

Co-Editor: Nei-Dya

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.