
TRENGGALEK (Lenteratoday) - Bencana tanah gerak yang melanda Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, terus meluas. Hingga Rabu (18/12/2024), Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, mencatat dampak yang semakin parah dengan 38 rumah rusak, melibatkan 43 kepala keluarga (KK) atau 119 jiwa terdampak.
Peristiwa ini bermula pada Minggu (15/12/2024) malam akibat hujan deras yang memicu pergerakan tanah. Pada awal kejadian, hanya 12 bangunan yang rusak, termasuk 11 rumah warga dan 1 musala, serta memaksa 23 warga mengungsi. Namun, pergerakan tanah yang terus berlangsung menyebabkan kerusakan lebih luas dan jumlah korban meningkat.
Sebagian warga telah mengungsi ke rumah kerabat di desa sekitar seperti Desa Puru, Desa Pringapus, dan Desa Sumberbening. Selain itu, BPBD Trenggalek mendirikan tiga posko pengungsian, termasuk posko induk di Desa Ngrandu. Di sisi lain, longsoran tanah juga menutup total akses jalan desa, menyulitkan mobilitas masyarakat.
“Kejadian tersebut juga menyebabkan jalan desa tertutup total oleh longsoran. Prioritas utama sekarang adalah penanganan evakuasi warga terdampak tanah gerak yang berada di RT 18 RW 03 Dusun Depok, Desa Ngrandu Kecamatan Suruh,” jelas Triadi Atmono.
Ia juga mengimbau warga untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Kepada masyarakat, khususnya di RT 18 RW 03 Dusun Depok Desa Ngrandu, diimbau agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tetap waspada jika terjadi hujan karena rawan longsor susulan dan tanah gerak,” tambahnya.
BPBD Trenggalek terus berupaya menangani dampak bencana ini, mulai dari evakuasi warga hingga pembukaan akses jalan desa yang tertutup longsoran. Langkah antisipasi juga dilakukan untuk mengurangi risiko bencana lanjutan akibat curah hujan tinggi yang masih mengancam wilayah tersebut. (*)
Reporter: Herlambang | Editor : Lutfiyu Handi