05 April 2025

Get In Touch

Garin Nugroho Raih Piala Citra FFI 2024 Sebagai Sutradara Terbaik

Garin Nugroro Raih Piala Citra Sutradara Terbaik lewat film Samsara (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eudebio Chrysnamurti)
Garin Nugroro Raih Piala Citra Sutradara Terbaik lewat film Samsara (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eudebio Chrysnamurti)

JAKARTA (Lenteratoday) - Garin Nugroho mendapatkan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2024 kategori sutradara terbaik untuk film hitam-putih pertamanya yang berjudul "Samsara". Penghargaan ini menegaskan keahliannya dalam mengolah cerita dan visual yang mendalam, sekaligus membuktikan bahwa eksplorasi medium hitam-putih tetap relevan di era perfilman modern.

Dalam sesi wawancara seusai menerima Piala Citra di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (20/11/2024) malam, Garin mengatakan bahwa penghargaan itu sangat berarti baginya.

"Sangat berarti karena saya tidak terlalu yakin film bisu, hitam-putih, dengan mengambil tema tradisi dan musik gabungan itu bisa meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik," kata Garin, yang terakhir kali menerima Piala Citra untuk sutradara terbaik pada 2019.

"Tapi, menurut saya nominasi untuk seluruh tim itu yang terbaik bagi saya, jadi ini adalah penghargaan kedua saya untuk sutradara," ia menambahkan.

Garin menerima Piala Citra kategori skenario adaptasi terbaik untuk film "Opera Jawa" pada 2006 dan 13 tahun kemudian mendapat Piala Citra kategori sutradara terbaik untuk film "Kucumbu Tubuh Indahku."

Selain mengantarkan Garin meraih Piala Citra kedua untuk sutradara terbaik, film "Samsara" menjadi film hitam-putih pertama yang mendapatkan Piala Citra dalam ajang FFI.

Garin mengambil referensi dari film-film bisu dunia tahun 1920-an, termasuk film Charlie Chaplin, serta pertunjukan wayang kulit dalam menggarap film "Samsara."

"Film ini mereferensikan film-film bisu di era keemasannya, dan juga kekuatan dari wayang kulit, karena wayang kulit itu orkestra, ada gamelan di depannya dan ada layar," kata dia.

Dia menambahkan, "Dan wayang kulit dalam sejarah dunia selalu menjadi awal dari apa yang disebut sejarah film, jadi ini memang film yang mereferensikan film-film dunia di era keemasannya."

Garin saat ini sedang mempersiapkan produksi film musikal baru tentang sejarah perfilman di Indonesia.

"Aku mau bikin film musikal tentang sejarah film Indonesia dari era 1.0 sampai era 4.0, judulnya 'Siapa Dia' dan genrenya melodrama," kata Garin.

"Dengan bintang film Nicholas Saputra, menyanyi dan menari, dan ada sekitar tujuh perempuan, ada Amanda Rawles, Monita Tahalea, dan lain-lain," katanya.
Film "Samsara" memboyong beberapa penghargaan pada Malam Anugerah Piala Citra FFI 2024.

Penghargaan yang diberikan untuk film ini meliputi penghargaan untuk sutradara terbaik (Garin Nugroho), pengarah sinematografi terbaik (Batara Geompar I.C.S.), penata musik terbaik (Wayan Sudirana dan Kasimyn), serta penata busana terbaik (Retno Ratih Damayanti).

Profil Garin Nugroho

Garin Nugroho Riyanto lahir dengan nama Nugroho Riyanto pada 6 Juni 1961 di Yogyakarta. Dia merupakan salah satu produser dan sutradara Indonesia yang populer. Garin adalah lulusan dari fakultas Sinematografi Universitas Kesenian Jakarta (IKJ).

Selain aktif sebagai sutradara, Garin juga aktif mengamati masalah sosial budaya, sehingga dia pantas disebut sebagai seorang pengamat komunikasi sosial budaya. Dia juga kerap menulis kolom di berbagai media.

Garin tidak hanya memproduksi film-film yang kemudian mencatat berbagai kemenangan dalam sejumlah festival film internasional. Garin sudah membuat video musik Januari Christy pada 1991, ketika video musik belum dikenal luas di televisi Indonesia. Kemudian menyusul Bintang-Bintang yang dinyanyikan Titi DJ, video musik dari Krakatau, Katon Bagaskara, Paquita Wijaya, Edo Kondologit serta Gong 2000.

Di masa kecilnya, Garin dikenal sebagai seorang soliter. Perhatiannya sangat mudah teralihkan oleh hal-hal yang dianggapnya menarik. Garin kecil bahkan sangat sering meninggalkan sepedanya karena ia lupa bahwa ia membawa sepeda. Selain itu, karena lahir pda keluarga pecinta buku, Garin adalah orang yang gemar membaca.

Sutradara ini telah banyak menerima penghargaan dari dalam dan luar negeri. Penghargaan-penghargaan tersebut antara lain adalah Film terbaik Asia di Osian’s Cinefan Festival ke-7 lewat Rindu Kami Padamu pada 2006, Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia pada tahun 2006 pula, Silver Leopard Video di Festival Film Internasional Locarno untuk Puisi Tak Terkuburkan pada tahun 2000, dan banyak lagi lainnya.

Garin juga peduli dengan permasalahan lingkungan hidup. Hal tersebut tercermin dalam filmnya yang ke-10, bertemakan lingkungan, Under The Tree. Dia juga suka mengumpulkan benda-benda seni yang unik dan antik dari berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri. Dia menyimpan barang-barang seni berupa lukisan-lukisan dan pajangan-pajangan unik dan antik dari Indonesia dan luar negeri.

Pada April 2016 lalu Garin secara resmi tampil sebagai calon Walikota Yogyakarta. Garin menggandeng aktivis dan pendamping UMKM Rommy Heryanto sebagai calon wakil walikota untuk maju dalam Pilkada Jogja pada 2017 mendatang. Garin mengajukan diri sebagai calon walikota Yogyakarta lewat jalur independen berdasarkan konvensi Jogja Independent.

Penghargaan Garin Nugroho

• Piala Citra untuk Sutrasara Terbaik (2024, 2019 – Samsara, Kucumbu Tubuh Indahku)
• Piala Citra untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (2006 – Opera Jawa)
• Piala Maya untuk Penyutradaraan Terpilih (2020, 2015 – Kudumbu Tubuh Indahku, Tjokroaminoto: Guru Bangsa)
• Indonesia Movie Actors Award untuk Ansambel Terbaik (2020, 2016 – Kucumbu Tubuh Indahku, Tjokroaminoto: Guru Bangsa)
• Penghargaan Khusus Festival Film Bandung untuk Sutradara Inovatif (1999)
• FIPRESCI Prize at Berlinale (1996 – Bulan Tertusuk Ilalang)

Co-Editor: Nei-Dya

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.