
JAKARTA (Lenteratoday) - Childfree adalah kondisi ketika seseorang atau pasangan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Sebenarnya, childfree bukanlah konsep baru. Bahkan, konsep childfree sudah banyak diterapkan di luar negeri, terutama negara maju. Bahkan, penduduk di negara maju seperti Jepang dan Jerman sudah banyak memilih untuk childfree.
Childfree adalah keputusan setiap orang yang sifatnya personal. Tentu saja, sebelum memutuskan hal tersebut, masing-masing pasangan sudah memikirkannya secara matang dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Pasangan yang memutuskan untuk childfree artinya sudah siap untuk tidak memiliki keturunan.
Praktisi Kesehatan Masyarakat dr. Ngabila Salama membeberkan sejumlah dampak yang kemungkinan bakal dirasakan pasangan bila mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak secara suka rela (childfree).
“Keputusan untuk childfree dapat memberikan dampak tertentu pada kesehatan reproduksi wanita, baik positif maupun negatif, tergantung pada kondisi fisik, mental, dan gaya hidup yang dijalani,” kata Ngabila, Senin (18/11/2024).
Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari itu menyebut keputusan pasangan untuk childfree sebenarnya tidak melulu memiliki dampak buruk. Di sisi lain, keputusan ini membantu mengurangi risiko komplikasi kehamilan dan persalinan.
Wanita yang tidak pernah hamil atau melahirkan, tentu akan terhindar dari risiko medis yang terkait seperti seperti preeklampsia, diabetes gestasional, atau trauma persalinan.
Hal positif selanjutnya adalah pasangan jadi memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kesehatan fisiknya. Tanpa kehamilan, tubuh tidak mengalami perubahan besar seperti peningkatan berat badan drastis, perubahan hormon selama kehamilan, atau dampak jangka panjang pada otot dasar panggul akibat persalinan.
Pasangan juga mampu mengontrol kesehatan reproduksi lebih baik. Ia menjelaskan bahwa wanita yang memilih childfree sering lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksinya.
“Contohnya seperti rutin melakukan pemeriksaan kesehatan baik pap smear, tes HPV dan menghindari risiko infeksi menular seksual,” ucap Ngabila.
Meski demikian, dampak buruk dari keputusan childfree tidak dapat diabaikan. Menurut Ngabila, risiko kanker tertentu dapat meningkat pada perempuan.
Tidak hamil atau tidak menyusui dapat meningkatkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara, karena kehamilan dan menyusui membantu menekan ovulasi dan menurunkan paparan hormon estrogen, yang berhubungan dengan risiko kanker tersebut.
Wanita yang tidak hamil juga mungkin lebih berisiko mengembangkan endometriosis, karena ovulasi terus berlangsung setiap siklus menstruasi tanpa jeda yang biasanya diberikan oleh kehamilan. Belum lagi adanya potensi masalah hormonal.
“Tidak mengalami kehamilan berarti tubuh tidak mengalami perubahan hormonal yang terkait dengan kehamilan, yang pada beberapa kasus dapat memberi manfaat seperti pengurangan risiko sindrom ovarium polikistik (PCOS),” katanya.
Childfree, kata Ngabila, juga memberikan dampak psikologis. Walaupun keputusan itu memberikan kebebasan mental, tetapi bagi sebagian wanita, tekanan sosial atau penyesalan di kemudian hari dapat memengaruhi kesehatan mental. Hal ini penting dipertimbangkan dengan baik, bersama pasangan jika ada.
“Dampak childfree bagi kesehatan reproduksi wanita bervariasi tergantung gaya hidup dan kondisi individu. Wanita yang memilih childfree sebaiknya tetap menjaga kesehatan reproduksi dengan pola hidup sehat, olahraga teratur, pemeriksaan rutin, dan konsultasi dengan dokter jika diperlukan,” ujar dia.
Disebutkan pula bahwa penggunaan pil kontrasepsi, baik bagi wanita yang sudah memiliki anak atau belum, dapat menurunkan risiko kanker ovarium. Hal ini dikarenakan kehamilan maupun pil kontrasepsi dapat memengaruhi hormon estrogen dan progesteron yang secara tidak langsung dapat mengurangi jumlah siklus ovulasi selama hidup.
Namun di sisi lain, penggunaan alat kontrasepsi dalam bentuk pil atau alat lainnya yang memengaruhi organ reproduksi wanita dalam jangka panjang rupanya juga dapat memicu masalah kesehatan tertentu, seperti:
• Efek kardiovaskular: Penggunaan kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko penyakit tromboemboli vena, stroke, dan serangan jantung. Risiko ini akan meningkat pada wanita yang memiliki kebiasaan merokok. Hal ini disebabkan oleh manipulasi kadar hormon estrogen dan progesteron tubuh.
• Efek metabolik: Komponen progestin dari produk kontrasepsi berpotensi menurunkan kadar kolesterol baik. Selain itu, komponen estrogen dalam produk kontrasepsi juga dapat meningkatkan kolesterol jahat. Yang mana kedua hal tersebut berperan dalam sistem metabolisme tubuh.
• Gangguan empedu: Penggunaan pil kontrasepsi dalam waktu yang lama diketahui dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami gangguan empedu.
• Tumor: Kontrasepsi oral diketahui dapat meningkatkan risiko munculnya tumor jinak, yaitu neoplasma yang dapat menyebabkan perdarahan lambung.
• Gangguan rahim dan organ reproduksi: Penggunaan IUD (intrauterine device) dalam waktu yang lama dapat meningkatkan risiko munculnya radang panggul, perforasi (luka pada uterus), atau masalah pada saluran tuba.
Baik memiliki anak ataupun tidak, penting bagi wanita untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh secara rutin, mulai dari mammografi (deteksi dini kanker payudara), kolonoskopi (setiap 5–10 tahun sekali), pap smear, serta menjaga berat badan ideal.
Perbedaan Childfree dan Childless
Selain childfree, terdapat pula istilah lain yaitu childless. Apa perbedaan keduanya? Childfree adalah keputusan yang cenderung dibuat dengan sengaja atau melalui pertimbangan penuh, sekalipun orang tersebut punya kesempatan untuk memiliki anak.
Sementara itu, childless adalah istilah yang mengacu pada kondisi ketika seseorang tidak bisa memiliki keturunan, biasanya karena kondisi fisik atau biologis. Sehingga, cenderung terjadi karena unsur keterpaksaan.
Co-Editor: Nei-Dya