
JAKARTA (Lenteratoday) - Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yuyun, mengatakan Indonesia memiliki 718 bahasa lokal. Kini banyak yang terancam punah akibat minimnya dokumentasi dan dukungan teknologi kebahasaan.
Untuk itu, BRIN memandang pentingnya Large Language Model (LLM) dalam pengembangan dan pelestarian bahasa daerah di Indonesia. BRIN kemudian mengembangkan model subtitle video otomatis berbasis LLM.
“Kami berharap proyek ini dapat mendukung keberlanjutan bahasa lokal di Indonesia yang semakin berkurang jumlah penuturnya,” katanya dilansir dari antara Minggu (20/10/2024).
Yuyun menyatakan, LLM digunakan untuk melatih sistem terjemahan otomatis berbasis arsitektur transformers, dengan fokus pada pembuatan subtitle video. LLM memungkinkan pemahaman kontekstual terhadap kata-kata dalam teks, menghasilkan teks terjemahan yang lebih akurat dan natural.
“Kami telah menggunakan Marian Model, salah satu LLM dalam penelitian ini, dan hasilnya sangat menggembirakan. Subtitle dalam tiga bahasa-Indonesia, Inggris, dan Bugis-berhasil dihasilkan secara otomatis melalui simulasi video berdurasi pendek,” ucap Yuyun.
Teknologi ini, kata Yuyun, memiliki potensi besar untuk melestarikan dan mendokumentasikan bahasa daerah yang terancam punah dengan biaya lebih efisien. “Kami berharap teknologi subtitle otomatis ini dapat membantu meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap bahasa daerah serta mendukung upaya pelestarian bahasa di era digital,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN Esa Prakasa mengatakan pengembangan teknologi ini merupakan kerja sama antara PRSDI BRIN, Universitas Hasanuddin dan Universitas Handayani. Teknologi ini dirancang khusus untuk membantu bahasa dengan sumber daya terbatas dan bertujuan melestarikan bahasa-bahasa lokal yang terancam punah.
“Potensi dari LLM untuk penggunaan, implementasi, serta pengembangan dalam bahasa daerah sangat besar, dan manfaatnya bagi pelestarian bahasa lokal tidak diragukan lagi,” kata Esa.(*)
Sumber : Antara | Editor : Lutfiyu Handi