
MALANG (Lenteratoday) - Tiga barista tuli di Kota Malang mengelola usaha kopi bernama 'Cinta', yang telah berjalan selama dua bulan. Tidak hanya menyajikan berbagai minuman dengan varian rasa, mereka juga mengajak pelanggan mengenal bahasa isyarat serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya komunikasi inklusif.
"Bukan hanya es kopi susu, kami juga menyediakan es matcha dan es coklat. Kami menjual minuman ini dalam bentuk dingin dan panas," ujar salah satu pendiri dan barista Kopi Cinta, Ardisa, Sabtu(5/10/2024).
Ardisa mengatakan untuk saat ini, pelanggan dapat menikmati produk Cinta di Resto Harmoni yang terletak di Jalan Bromo, Kota Malang. Selain itu, ia juga memanfaatkan berbagai macam kegiatan atau pameran yang diselenggarakan oleh Pemkot Malang, untuk membuka gerai Cinta.
Harga untuk satu gelas kopi Cinta dipatok seharga Rp 20 ribu, sedangkan untuk kemasan satu botol, mereka menjualnya seharga Rp 25 ribu.
"Kami ingin memberikan pengalaman berbeda kepada pelanggan. Ketika orang memesan, kami menyediakan tutorial untuk membantu mereka memesan menggunakan bahasa isyarat," tambah Ardisa.
Selama dua bulan perjalanan, Ardisa bersama dua rekannya yang juga merupakan barista tuli, terus mengembangkan usaha ini meski ada tantangan.
"Saya belajar dari nol. Sebelumnya, saya membuat bisnis rice bowl dan memang memiliki ketertarikan dalam dunia kuliner," jelasnya.
Dengan latar belakang pendidikan di jurusan pariwisata yang fokus pada kuliner, Ardisa merasa tidak mengalami kendala berarti dalam menjalankan usaha ini.
Lebih lanjut, inisiatif Cinta juga mencerminkan keinginan mereka untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Dengan mengajak pelanggan untuk mengenal bahasa isyarat, mereka berharap dapat membuka wawasan dan menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Dari kopi ke kesadaran, sambung Ardisa, Cinta diharapkan dapat menciptakan ruang bagi interaksi yang lebih bermakna. Dengan visi yang kuat untuk menyebarkan pesan positif, Ardisa dan kedua temannya berupaya menunjukkan bahwa komunikasi dapat terjalin meski dalam perbedaan.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais