04 April 2025

Get In Touch

Peneliti China Temukan Virus Baru dari Gigitan Kutu Sebabkan Gangguan Syaraf

Ilustrasi penelitian virus.(foto:ist)
Ilustrasi penelitian virus.(foto:ist)

JAKARTA (Lenteratoday) - Peneliti di China menemukan sebuah virus baru dari gigitan kutu, virus tersebut diberi nama Wetland Virus (WELV) yang sebelumnya tidak pernah ditemukan pada manusia.

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan The New England Journal of Medicine pada 4 September 2024 itu, virus tersebut juga berisiko menyebabkan penyakit neurologis atau gangguan syaraf.

Dikutip dari NDTV, virus tersebut terdeteksi pertama kali ditemukan pada seorang pasien berusia 61 tahun di Kota Jinzhou pada Juni 2019. Pasien tersebut mengalami sakit selama lima hari setelah digigit kutu, ketika berkunjung ke sebuah taman di lahan basah Mongolia Dalam wilayah otonom di China bagian utara.

Pasien saat itu mengalami sakit kepala, demam, muntah, dan memiliki gejala resisten terhadap antibiotik.

"Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa orthonairovirus yang baru ditemukan WELV, bersifat patogen bagi manusia dan beredar di antara manusia, kutu, dan berbagai hewan di wilayah timur laut China," ujar peneliti.

Karena penasaran dengan temuan tersebut, peneliti akhirnya melakukan pengumpulan hampir 14.600 kutu di berbagai wilayah di China bagian utara termasuk di tempat pasien tersebut digigit pertama kali. Hasil temuannya, sekitar 2 persen dari kutu yang didapatkan memiliki materi genetik WELV.

Peneliti lalu melakukan analisis sampel darah, dari penjaga hutan yang ada di wilayah tersebut. Mereka menemukan ada 12 dari 640 orang penjaga hutan, yang memiliki antibodi terhadap WELV.

Penelitian lanjutan juga dilakukan pada ratusan pasien, yang demam akibat gigitan kutu dalam waktu satu bulan terakhir. Hasilnya sebanyak 20 pasien dinyatakan positif virus WELV.

Tidak hanya itu saja, hasil pemeriksaan menemukan tanda-tanda kerusakan jaringan hingga pembekuan darah pada banyak pasien. Salah satu pasien WELV bahkan sempat mengalami koma karena memiliki konsentrasi sel darah putih yang tinggi dalam otak dan cairan sumsum tulang belakangnya.

Semua pasien WELV dinyatakan sudah sembuh setelah menjalani perawatan. Pasien sudah dipulangkan dalam rentang 4-15 hari setelah dirawat di rumah sakit.

Percobaan laboratorium pada tikus menunjukkan WELV, dapat menyebabkan infeksi yang berbahaya dan berisiko memengaruhi sistem saraf. Ini menunjukkan meskipun infeksi WELV dapat bersifat ringan dalam beberapa kasus, ini tetap berpotensi menyebabkan masalah serius pada otak.

Berikut ini beberapa gejala umum yang dialami para pasien dalam proses penelitian: demam, pusing, sakit kepala, malaise atau tidak enak badan, nyeri punggung, muntah dan diare.

Sumber: Detik/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.