
PATUAKHALI (Lenteratoday) - Sebuah topan kuat menghantam pesisir pantai Bangladesh pada hari Minggu (26/5/2024), dengan hampir satu juta orang mengungsi ke pedalaman untuk mencari tempat berlindung dari angin kencang dan ombak yang dahsyat, dikutip dari Channel News Asia, Senin (27/5/2024).
“Topan Remal yang cukup parah telah mulai melintasi pesisir Bangladesh,” kata Direktur Departemen Meteorologi Bangladesh Azizur Rahman kepada AFP, dan menambahkan bahwa badai yang mengamuk dapat terus menghantam pesisir hingga setidaknya pada Senin dini hari (27/5/2024).
“Sejauh ini kami telah mencatat kecepatan angin maksimum 90 km/jam, tetapi kecepatan angin mungkin akan meningkat,” tambahnya.
Para peramal cuaca memperkirakan hembusan angin hingga 130 km/jam, dengan hujan lebat dan angin kencang yang juga menghantam negara tetangga, India. Pihak berwenang telah meningkatkan sinyal bahaya ke level tertinggi.
Topan telah menewaskan ratusan ribu orang di Bangladesh dalam beberapa dekade terakhir, namun jumlah badai super yang menghantam pesisir pantai yang padat penduduknya telah meningkat tajam, dari satu kali dalam setahun menjadi tiga kali dalam setahun, karena dampak perubahan iklim.
“Topan ini dapat melepaskan gelombang badai hingga 4 meter di atas ketinggian air laut normal, yang bisa berbahaya,” kata pejabat senior cuaca Bangladesh Muhammad Abul Kalam Mallik kepada AFP.
Sebagian besar wilayah pesisir Bangladesh berada satu atau dua meter di atas permukaan laut dan gelombang badai yang tinggi dapat menghancurkan desa-desa.
“Kami sangat ketakutan,” kata seorang nelayan berusia 35 tahun, Yusuf Fakir, di Kuakata, sebuah kota di ujung selatan Bangladesh yang berada di jalur yang diperkirakan akan dilalui badai, yang berbicara sebelum badai tiba.
Sementara, ia telah mengirim istri dan anak-anaknya ke rumah kerabatnya di pedalaman, ia tetap tinggal di rumah untuk menjaga barang-barang mereka.
Sedikitnya 800.000 warga Bangladesh mengungsi dari desa-desa pesisir mereka, sementara lebih dari 50.000 orang di India juga mengungsi ke pedalaman dari hutan bakau Sundarbans yang luas, di mana sungai Gangga, Brahmaputra dan Meghna bertemu dengan laut, demikian ungkap para menteri dan pejabat bencana.
“Kami ingin memastikan bahwa satu nyawa pun tidak hilang,” ujar Bankim Chandra Hazra, seorang menteri senior di negara bagian Benggala Barat, India.
Ketika orang-orang mengungsi, Kepolisian Bangladesh mengatakan bahwa sebuah kapal feri yang sarat dengan muatan yang membawa lebih dari 50 penumpang - dua kali lipat dari kapasitasnya - terguling dan tenggelam di dekat Mongla, sebuah pelabuhan yang berada di jalur yang diperkirakan akan dilalui badai.
“Sedikitnya 13 orang terluka dan dibawa ke rumah sakit,” kata kepala polisi setempat Mushfiqur Rahman Tushar kepada AFP, dan menambahkan bahwa kapal-kapal lain membawa para penumpang ke tempat yang lebih aman.
Seorang pemuda tenggelam di lautan yang ganas di Kuakata pada hari Minggu sore, kata administrator pemerintah distrik Nur Kutubul Alam kepada AFP.
Sekretaris manajemen bencana Bangladesh, Kamrul Hasan, mengatakan bahwa orang-orang telah diperintahkan untuk pindah dari rumah-rumah yang “tidak aman dan rentan”.
“Sedikitnya 800.000 orang telah dipindahkan ke tempat pengungsian,” kata Hasan.
Pihak berwenang telah mengerahkan puluhan ribu tenaga relawan untuk memperingatkan masyarakat akan bahaya yang mengancam, namun para pejabat setempat mengatakan bahwa banyak orang yang tetap tinggal di rumah karena mereka takut harta benda mereka akan dicuri jika mereka pergi.
Ia mengatakan sekitar 4.000 tempat perlindungan topan telah disiapkan di sepanjang pantai negara ini di Teluk Benggala.
Selain untuk penduduk desa dan nelayan, banyak dari pusat penampungan bertingkat ini memiliki ruang untuk menampung ternak, kerbau dan kambing, serta hewan peliharaan.
Di pulau dataran rendah Bhashan Char, yang menjadi rumah bagi 36.000 pengungsi Rohingya dari Myanmar, 57 pusat penampungan dibuka, demikian ungkap wakil komisioner pengungsi Mohammad Rafiqul Haque kepada AFP.
Tiga pelabuhan laut dan bandara di kota terbesar kedua, Chittagong, ditutup, kata para pejabat.
Bandara Kolkata ditutup pada hari Minggu, sementara angkatan laut India menyiapkan dua kapal dengan bantuan dan pasokan medis untuk “segera dikerahkan”.
Meskipun para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim memicu lebih banyak badai, perkiraan yang lebih baik dan perencanaan evakuasi yang lebih efektif telah secara dramatis mengurangi jumlah korban jiwa.
Pada Topan Besar Bhola di bulan November 1970, diperkirakan setengah juta orang meninggal - sebagian besar tenggelam oleh gelombang badai.
Pada bulan Mei tahun lalu, Topan Mocha menjadi badai paling kuat yang melanda Bangladesh sejak Topan Sidr pada bulan November 2007.
Topan Sidr menewaskan lebih dari 3.000 orang dan menyebabkan kerusakan senilai miliaran dolar.
Bulan Oktober lalu, setidaknya dua orang tewas dan hampir 300.000 orang meninggalkan rumah mereka menuju tempat penampungan badai saat Topan Hamoon menghantam pantai tenggara negara tersebut. (*)
Sumber: Channel News Asia
Penerjemah: Lambang (mk) | Editor : Lutfiyu Handi