Festival Film Pendek Surabaya, Tayangkan Film Terbaik dan Masterclass Bersama Penulis KKN di Desa Penari

SURABAYA (Lenteratoday) - Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya menggelar Festival Film Pendek Surabaya (FFPS) 2023 di Balai Budaya Surabaya pada Sabtu (25/11/2023).
Merupakan gelaran yang kedua sejak tahun lalu, FFPS 2023 ini masuk dalam serangkaian acara Creative Community Day, yang dikemas dengan konsep pemutaran film indie karya arek-arek Suroboyo dan Masterclass bersama Lelelaila Penulis naskah film KKN di Desa Penari.
Farah Andita Ramadhani, Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Kota Surabaya menjelaskan, bahwa sejak tahun lalu ekonomi kreatif masuk dalam bagian urusan Disbudporapar. Melihat potensi sineas muda yang cukup besar, maka ia menginisiasi Festival Film Pendek Surabaya (FFPS).
Berbeda dengan tahun lalu yang dikemas dalam bentuk lomba, tahun ini FFPS dikemas dengan menayangkan karya film pendek indie yang sudah eksis dan pernah tampil untuk discreeningkan, dipublikasikan sekaligus sebagai upaya pemetaan. Sehingga Disbudporapar bisa mengetahui sejauh mana potensi yang dimiliki para sineas Surabaya, dan untuk bisa menentukan bagaimana arah perkembangan selanjutnya.
"Kita open call ya pada saat itu, ada puluhan karya yang masuk, lalu ada tim kurator, dikurasi, dan lolos 11 film yang dianggap Oke untuk kemudian ditayangkan di FFPS tahun ini," jelasnya.
Film-film tersebut adalah "Joka Joki" oleh Sindie Peoduction, "Bilik Suara" oleh Jurnalix, "Mama Anyar" oleh Smekdors Film Academy, "Titah" oleh Graha Sinema, "Resonansi" oleh Beautiful Minds Studio, "Bagiyo" oleh Teater Kaki Langit Surabaya, "If Nightmares Were Shorter" oleh Diorama Production, "Is Smile" oleh Smile Production, "Sisa-Sisa Pejuang" oleh Kubik & Vintage Indonesia, "Akibu" oleh Bepi Production, serta "Sliyut" oleh Combine Films-FIKOM Universitas Ciputra Surabaya.
Selain penayangan film, juga ada Masterclass Menulis Skenario Ala Box Office bersama Lelelaila, Penulis Naskah Film KKN di Desa Penari. Diketahui, penulis yang kerap disapa Lele tersebut menjadi tim juri dalam lomba film pendek FFPS tahun lalu. Maka tahun ini dengan konsep berbeda, Lele kembali hadir dengan paparan materi menulis skenario.
"Jadi awal mula kita launching FFPS beliau ada di sana, jadi sudah tahu perjalananny. Paling tidak (Lele) paham karakter anak-anak Surabaya, sehingga tahun ini kita hadirkan beliau untuk ngisi Masterclass," ungkapnya.
Dua tahun mengikuti perjalanan FFPS dan kini menjadi narasumber Masterclass, menurutnya kegiatan ini menarik dan bermanfaat bagi penggiat film di Surabaya. Ia berharap acara ini tak berhenti sampai di sini, namun ia ingin banyak hal yang keberlanjutan. Ia juga berharap akan semakin banyak film-filmnya yang lahir dari Surabaya, semakin bergeraknya komunitas film di Surabaya.
"Yang penting ekosistemnya jadi dulu aja. Jadi kayak menjadikan semangat buat teman-teman penggiat film di Kota Surabaya. Terima kasih sudah bikin acara ini," ucapnya.
Baginya, film-film karya arek Suroboyo itu menarik. Karena dibuat oleh siswa yang masih duduk di bangku SMK dan juga Mahasiswa, dan dibuat berdasarkan cerita kehidupan sehari-hari, yang bisa saja tidak bisa dilihat di Ibukota Jakarta. Hal-hal unik tersebut ia berharap dapat menemukan cerita-cerita yang autentik dari Kota Pahlawan ini.
"Jadi aku senang banget ternyata bisa menemukan banyak film-film pendek dengan gairah yang seperti itu. Jadi semoga habis itu gairah-gairah kedepannya berkembang lagi," ungkapnya. (*)
Reporter : Jannatul Firdaus | Editor : Lutfiyu Handi