
MALANG (Lenteratoday) - Kenaikan harga telur ayam di pasaran saat ini tengah dikeluhkan oleh masyarakat Kota Malang, diduga penyebab kenaikan harga tersebut dipicu oleh krisis pasokan telur ayam yang sedang berlangsung.
Beberapa pedagang telur ayam di Pasar Blimbing, Kota Malang, melaporkan bahwa sulitnya mendapatkan stok telur menyebabkan harga naik secara drastis. Diketahui saat ini, harga telur ayam bahkan mencapai Rp 31 ribu hingga Rp 32 ribu per kilogram, sementara sebelumnya hanya berkisar di rentang Rp 24 ribu hingga Rp 26 ribu per kilogram.
"Ya tingkat penjualan pastinya turun (karena harga telur yang naik) sekitar 50 persenan. Dulu bisa menjual 5 peti sampai 6 peti telur ayam, sekarang hanya bisa menjual 2 peti sampai 3 peti, itu pun gak mesti, lihat pasar ramai apa nggak," ujar salah satu pedagang di Pasar Blimbing, Samsul, saat dikonfirmasi awak media, Kamis (20/7/2023).
Tidak hanya para pedagang, para pembeli pun juga merasakan dampak akibat kenaikan harga telur ayam. Menurut Samsul, banyak dari para pelanggannya yang saat ini memilih untuk beralih ke telur berukuran kecil, dikarenakan harga yang lebih terjangkau.
"Langganan saya ada yang buka usaha katering, nasi goreng. Itu mereka biasanya beli 5 kilo, 3 kilo 2,5 kilo, sekarang daya beli mungkin menyesuaikan. Mereka pilih yang kecil karena keuntungannya mungkin gak menjangkau kalau pakai telur ukuran besar. Kalau saya ini ngambilnya dari Mojokerto sama Jombang," jelasnya.
Lebih lanjut, apabila naiknya harga telur ayam ini terus berlanjut, maka diprediksi hal tersebut juga dapat memengaruhi inflasi di Kota Malang. Sebab berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, menunjukkan bahwa harga telur ayam telah menjadi salah satu kontributor utama inflasi, pada bulan Juni sebelumnya.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasie) Pengendalian dan Pengawasan, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Ni Luh Eka Wilantari, mengungkapkan bahwa kenaikan harga telur ayam di pasaran, telah disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kenaikan harga pakan ayam dan kondisi cuaca yang mempengaruhi produksi telur ayam.
"Kemarau yang berkepanjangan menyebabkan biaya pemeliharaan ayam meningkat. Namun, yang paling signifikan adalah kenaikan harga pakan," ujar Eka.
Menanggapi hal tersebut, Eka mengaku bahwa Diskopindag Kota Malang akan terus memantau perkembangan harga telur ayam dan mencari solusi untuk mengatasi krisis pasokan. Meskipun harga telur ayam mahal, sambungnya, pihaknya tetap meyakinkan masyarakat bahwa langkah-langkah akan diambil untuk menjaga ketersediaan telur di pasar. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi