
MALANG (Lenteratoday) – Setelah vakum selama pandemi, Komunitas Malang Patch Work and Quilting (Mapaquilt) kembali menggelar pameran kerajinan dengan bahan baku kain perca. Pameran Mapaquilt ke-3 kali ini bertempat di gedung DPRD Kota Malang.
Tak hanya menggelar pameran, Mapaquilt juga mengajak para ibu rumah tangga di Kota Malang untuk lebih produktif. Untuk itu, mereka juga menggelar berbagai macam pelatihan jahit menjahit.
“Pameran Mapaquilt pertama diselenggarakan pada tahun 2017. Kedua di tahun 2019. Ketiga baru kali ini karena pandemi, jadi kita mendelay 1 tahun. Ini kesempatan kita dapat tempat pinjaman di DPRD Kota Malang. Karena ini gedung perwakilan rakyat, dari rakyat untuk rakyat,” ujar Perwakilan Mapaquilt, Ortien Wahyu Handayani, ditemui dalam pameran Mapaquilt ke 3, di gedung DPRD Kota Malang, Jum’at (2/12/2022).
Otien selanjutnya menjelaskan mengenai mekanisme jahit menjahit ala Mapaquilt. Menurutnya, bahan yang dibutuhkan hanyalah kain perca, benang, serta pola-pola atau pattern yang telah ditentukan.
“Sesuai dengan namanya, patchwork, yakni menyambung kain yang telah dipotong-potong. Tapi yang jadi daya tarik itu di quiltingnya. Yakni jahitan yang tembus,” imbuhnya.
Namun, Otien menyebutkan apabila dalam pelatihan tersebut peserta menginginkan hasil karya dengan bentuk serta warna yang sama. Maka peserta disarankan untuk membeli kain utuh, untuk selanjutnya dipotong menjadi bagian-bagian lebih kecil, layaknya kain perca.
Kemudian Otien mengatakan, bahwa pihaknya lebih sering menggunakan kain perca asli, untuk diubah menjadi sebuah karya. “Kita juga lebih sering menggunakan yang memang asli kain perca. Misalnya ada anggota kami, namanya Bu Eli, dia menggabung sisa-sisa kain perca batik yang nanti menjadi satu pola. Kami juga sudah menyediakan pola-pola, ada namanya. Misalnya ada pattern snail trail, dan macam-macam,” urainya.

Tidak hanya pelatihan menjahit kain perca menjadi sebuah pola baru. Pameran yang diselenggarakan mulai tanggal 26 November-04 Desember 2022 ini juga memberikan banyak pelatihan di bidang jahit menjahit. Diantaranya yakni membuat masker, tali masker (strap), sashiko, hingga kantong origami.
“Untuk pelatihan, yang kami sebut dengan lokakarya. Itu kami mengajarkan untuk membuat masker dan tali masker atau strap. Kemudian ada sashiko, yakni kesenian jahit menjahit dari Jepang. Kemudian ada membuat kantong origami. Aksesoris seperti gelang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Otien menuturkan bahwa setiap harinya peserta pelatihan yang hadir sekitar 15-25 orang. Dikatakannya, peserta akan menerima pelatihan yang berbeda di setiap harinya, sesuai dengan jenis karya yang telah dipilihnya saat sesi pendaftaran.
“Untuk mendaftar, itu kan kami menyebar lokakarya. Nah masing-masing ibu yang tertarik untuk mengikuti pelatihan, itu kami sediakan contact person untuk dapat dihubungi dan mendaftar lewat nomor yang tertera. Jadi setiap pelatihan itu sudah tersedia harga. Peserta dibebaskan mau mengikuti pelatihan apa. Hasil karya juga untuk pribadi karena sudah ada kitsnya sendiri,” terangnya.
Di akhir, ketika disinggung mengenai peluang yang dihasilkan oleh kerajinan kain perca tersebut. Otien menyebutkan bahwa minat pasar cukup bagus. Sedangkan, untuk kain perca yang telah diubah menjadi sebuah blanket, dapat dikenakan harga senilai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta, per blanket.
“Minat pasar cukup bagus. Kalau blanket harganya sekitar 3 sampai 4 juta. Tapi kalau untuk tas itu sekitar 50 ribu, yang lebih kecil seperti gantungan kunci itu sekitar 10-15 ribu. Tergantung tingkat kesulitannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi