
MALANG (Lenteratoday) – Okupansi perhotelan di Kota Malang meningkat selama tahun 2022, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, mengharap agar pada momen Natal dan Tahun baru (Nataru) okupansi mencapai 80%.
“Ya, paling tidak kami harapannya (okupansi) di 80 persen. Untuk saat ini belum dapat diketahui berapa persentase okupansi menjelang nataru. Kami pun menunggu petunjuk dengan terus berhubungan antara Pemkot, dan pihak kepolisian,” ujar Agoes Basoeki, ketika dikonfirmasi oleh awak media, Kamis (1/12/2022).
Agoes kemudian mengatakan, capaian okupansi menjelang Nataru tersebut tentu dapat diwujudkan. Asalkan Kota Malang tetap kondusif, sehingga tidak diberlakukan lagi pembatasan seperti PPKM.
“Nataru itu harapannya memang tidak ada pembatasan. Misalnya seperti pemberlakuan PPKM, atau isu-isu yang akhirnya membuat dibatasi lagi. Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Sehingga pengunjung akan naik,” urainya.
Dia menjelaskan bahwa prediksi okupansi baru dapat diketahui pada pertengahan bulan Desember mendatang. Namun, Agoes mengaku, telah banyak restoran dan hotel di Kota Malang yang mulai menyiapkan event-event untuk meramaikan penyambutan nataru.
“Jadi baru bisa diprediksi itu paling tidak pertengahan bulan Desember ini. Kita sudah berkoordinasi, sudah mulai siap-siap, lah. Tapi tempat-tempat seperti restoran, hotel yang ada ini sudah mulai menyiapkan. Bahkan untuk mengadakan event-event penyambutan itu juga ada. Tapi insyaallah optimis lah, 80 persen tercapai,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Agoes menyebutkan capaian okupansi perhotelan Kota Malang, di tahun 2022 jauh melebihi capaian pada tahun 2019. Dengan dominasi wisatawan lokal lebih banyak, dibanding dengan wisatawan mancanegara. Meskipun lebih didominasi wisatawan lokal, Agoes menegaskan bahwa perputaran transaksi masih dirasa sangat menguntungkan.
“Kalau dicompare sebelum pandemi, di Malang tahun 2022 ini mengalahkan 2019 untuk tingkat huniannya. Karena di 2019 itu masih antara 60-70 persen. 2022 kunjungan wisatawan mancanegara ini tidak seberapa banyak. Karena belum pulih betul. Tapi untuk wisatawan lokal, itu banyak,” imbuhnya.
Di akhir, Agoes kembali menekankan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi capaian okupansi. Diantaranya stabilitas keamanan serta pemenuhan kesehatan karyawan hotel pasca Covid-19.
“Kalau sekarang ya stabilitas keamanan, kemudian upaya pemenuhan kesehatan. Isu Covid sekarang itu berpengaruh, artinya semakin tenang maka semakin lumayan naik okupansinya. Karena memang bergantung sama pariwisata,” tandasnya. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi