
MALANG (Lenteratoday) - Seorang pria terkubur di bawah tumpukan lidi. Saat bendara berwarna putih itu tumbang, pria tersebut bangkit dan meraih bendera tersebut. Adegan tersebut membuka pementasan Toean Markoen yang dimainkan Teater Api Indonesia, di Gedung Oesman Mansyur Universitas Islam Malang, malam ini, Sabtu (12/11/2022).
Adegan selanjutnya, seorang pria lain memakai APD, juga mengibaskan dua bendera berwarna merah. Tak hanya mengibaskan bendera, pria tersebut membawa sejumlah bendera kecil yang terpasang pada tiga batang rotan yang terikat di punggungnya. Sementara pada batang rotan yang lain tergantung beberapa kaleng kecil. Tak berapa lama kemudian muncul 2 orang yang meraih tumpukan lidi lalu menebarkannya.

Kesemua adegan itu adalah metafora yang mengungkapkan masyarakat agraris yang berperang di dunia industri. "Toean Markoen adalah personifikasi atau simbol dari peradaban industrialisasi, yang juga memiliki makna makan secara lahap yang cenderung serakah," tutur Luhur Kayungga, sutradara pentas ini.
"Toean Markoen adalah upaya melongok sejarah peradaban di mana manusia diculik martabat kemanusiaannya dan dijadikan sekrup mesin dan dibuang sebagai sampah pabrik," tambahnya.
Lakon Toean Markoen yang dimainkan oleh 5 aktor ini diadaptasi dari naskah Mesin Hamlet karya Heiner Muller, seniman Jerman Timur, sekitar tahun 1977. (*)
Reporter : Endang Pergiwati | Editor : Lutfiyu Handi