07 April 2025

Get In Touch

Siti Ruslina, Pencipta 5 Motif Batik Semarangan

Siti Ruslina sedang menjemur batik hasil karyanya.
Siti Ruslina sedang menjemur batik hasil karyanya.

SEMARANG (Lenteratoday) - Berawal dari keikutsertaannya dalam pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, mengantarkan Siti Ruslina untuk berkarya lebih jauh lagi. Tak sekadar bisa membatik, kini ia menciptakan 5 motif batik yang telah terdaftar Hak Ciptanya.

Saat ini, wanita yang akrab disapa Lina tersebut tengah fokus mengembangkan UMKM batik di Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Usaha yang ia namai Ruslina Batik tersebut berfokus memproduksi batik khas Semarangan.

Sejak 2019, Lina telah berhasil menciptakan 5 motif batik. Motif-motif tersebut ia peroleh dengan mengamati lingkungan sekitarnya. Masing-masing dari kelima motif tersebut mengandung makna filosofis yang berbeda.

"Contohnya ceblok mawar, itu sesuai dengan nama saya Ruslina, rose kan artinya mawar. Maknanya di situ ada keindahan dan akan tumbuh suatu kesadaran," katanya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (30/10/2022).

Kemudian, motif segara penyu yang menggambarkan kesabaran. Pada tempurungnya, tersusun motif gunungan.

"Segoro (samudra) itu kan luas, menandakan kesabaran di situ. Sementara gunungan saya ibaratkan pagar yang membatasinya, filosofinya agar selalu diberi kesabaran yang luas," ujarnya.

Motif yang ketiga yakni karas sinom. Karas yang berarti pegangan dan sinom yang berarti daun. Keduanya mengandung makna setiap hidup di masyarakat, seseorang akan bertempat tinggal di suatu tempat dan harus beradaptasi dengan lingkungannya masing-masing.

Keempat, motif Kerang Gemintang. Terinspirasi dari Kerang, hewan penghasil mutiara. Demi menghasilkan mutiara yang indah, kerang yang tinggal di dasar laut harus bertahan menghadapi derasnya gelombang. Bak manusia yang ingin menghasilkan karya besar.

Terakhir, motif Karas Galasem. Bersumber dari nama kampung di wilayahnya, Tegal Asem. Di kampung tersebut, terdapat pohon asam besar. Motif tersebut menonjolkan pohon asam yang menjadi sejarah bagi nama Kota Semarang.

Kelima motif tersebut sudah Lina patenkan ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Disamping kelima motif tersebut, ia juga memproduksi motif-motif lain.

"Banyak motif sebenarnya, namun lainnya belum dipatenkan. Hanya lima motif yang sudah terdaftar, yang lain tetap saya produksi meskipun belum saya hak ciptakan," kata Ruslina.

Menurutnya, kesabaran adalah kunci keberhasilan bagi para pembatik. Menekuni proses membatik dengan sabar akan mengantarkan pada karya yang luar biasa. (*)

Reporter : Azifa Azzahra | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.