

MAKKAH -Jamaah Kloter 37 embarkasi Surabaya yang tergabung pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Nurul Hayat memiliki beragam latar belakang dan profesi.
Salah seorang diantaranya adalah Sri Rahayu yang akrab dipanggil Bu Yayuk. Sosoknya sederhana. Namun menjadi perhatian bagi jamaah lainnya. Bu Yayuk, kelahiran Banyuwangi, 22 Desember 1966 itu merupakan pengemudi ojek online (ojol).
Pada tahun 2011, Bu Yayuk mendatangi kantor KBIHU Nurul Hayat. Di hadapan petugas front office Bu Yayuk membawa sebuah tas kresek. Kepada staf KBIHU yang meyalani saat itu, Bu Yayuk berkata, "Saya daftar haji, mbak".
Staf KBIHU itu gamang. Namun ia cepat tanggap dan berusaha memberikan bantuan. Kantung kresek segera beralih tangan. Ketika dibuka berisi uang rupiah dengan nilai seribu dan lima ribu.
Suasana menjadi sangat luar biasa. Kedatangan Bu Yayuk itu andai kata terjadi sekarang tentu akan viral (baca: jadi perbincangan luas di media sosial).
Seketika itu para staf dan karyawan KBIHU Nurul Hayat turut merasakan bahagia, seperti apa yang dialami Bu Yayuk.
Sepanjang perjalanan dari Tanah Air hingga di Tanah Suci, Bu Yayuk menggugah semangat para jamaah. Termasuk saya. Minat saya untuk melakukan wawancara seperti gayung bersambut. Bu Yayuk tidak segan-segan membuka rahasia masa lalunya.
“Pada waktu mendaftar sebelas tahun lalu, saya berprofesi sebagai tukang parkir di kampus Ubaya,” ujarnya.
Alhamdulillah, Bu Yayuk menyimpan sebuah keinginan mulia. Pergi haji ke Tanah Suci.
Sejak itu, sedikit demi sedikit hasil jerih payahnya disisihkan untuk mewujudkan sebuah keinginan: pergi beribadah haji.
Kehidupan yang serba terbatas, tak menghalangi niatnya. Justru memicu semangat keinginan berangkat naik haji.
Dari cerita Bu Yayuk tergambar jelas dan pasti. Beginilah cara Allah mengundang dan memilih siapa yang terpanggil memenuhi undangan-Nya.
Bu Yayuk merupakan orang tua tunggal. Suaminya sudah meninggal dunia. Beliau menjadi tulang punggung untuk menghidupi enam anaknya. Dia membuktikan mampu pula pergi haji.
Ketika dunia dilanda pandemi, banyak kampus mengurangi kegiatan kuliah. Aktivitas parkir praktis berhenti. Bu Yayuk berganti profesi.

Penjaga parkir ditinggalkan, beralih menjadi pengemudi ojek online. Di kemudian hari -setidaknya sampai hari ini, pengemudi ojek online pilihan hidupnya. Bahkan menjadi sarana pendulang rezeki.
Bu Yayuk menarik perhatian satpam masjid Al Maghfiroh Rungkut Asri, Surabaya. Petugas kemanan ini bersaksi, Bu Yayuk sangat tekun menjaga sholatnya. Bu Yayuk sering minta waktu untuk mengerjakan sholat sebelum menuntaskan ordernya.
Saat bersiap menuju lontar jamarat, beliau sempat bertanya pada saya, berapa jauhnya ke Tugu Mina. Saya menjawab, kurang lebih 3.5 km.
Antara serius dan tidak, beliau bilang, "Nek ono sepeda, tak ewangi ngimbal ae (kalau ada sepeda motor, saya bantu angkat penumpang bolak balik)”.
Ucapan Bu Yayuk tentu membuat cair suasana. Para jamaah yang mendengarnya, spontan tersenyum. Sebagian besar malah tertawa lebar.
Ketekunan disertai semangatnya tinggi telah membuahkan hasil. Bu Yayuk menggapi predikat seorang hajjah. Sebuah pencapaian, yang dapat menjadi inspirasi banyak orang. Terutama bagi umat muslim (*)
Penulis: Dr. Aryo Nugroho, M.T. -Dosen/Jamaah Haji Kloter 37 Surabaya|Editor: Arifin BH