
Pamekasan - Plt Kadinkes Kabupaten Pamekasan dr. Ach Marzuki meminta pada masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar di media sosial (Medsos) terkait penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Disamping itu, untuk menghindari kepanitkan, masyarakat harus tahu istilah medis dalam penanganan virus corona.
Di Kabupaten Pamekasan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan terus melakukan tracing terhadap orang berpotensi terpapar Covid-19. Langkah rutin yang dilakukan oleh tim kesehatan Dinas Kesehatan adalah tracing dengan system PE atau Penyelidikan Epidemiologi di beberapa wilayah di Pamekasan.
“Nah keresahan masyarakat itu terjadi karena mereka tidak paham istilah medis dan justru memunculkan asumsi. Terkait berita di medsos harusnya itu tidak ditulis dan disebar begitu, repot karena yang baca tak paham. Dinkes masih focus lakukan PE mas,” ujar Plt Kadinkes dr. Ach Marzuki kepada lenteratoday.com Jumat (10/4/2020).
Dia menjelaskan bahwa PE merupakan kegiatan yang bertujuan mengatasi masalah kesehatan, utamanya menanggulangi penyakit menular yang sedang terjadi di masyarakat, yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Umumnya KLB terjadi dengan sangat cepat, banyak orang yang terserang dan mencakup luas wilayah yang besar serta dapat menimbulkan kepanikan berbagai pihak.
Dr Marzuki menjelaskan soal rapid test, dia membenarkan jika rapid test tersebut dilakukan oleh beberapa pihak seperti Dinkes dan Rumah sakit. “Rapid test itu dilakukan sesuai protap kesehatan yang kontak dengan pasien, maka wajib dilakukan (rapid test), dan hasil rapid positif belum tentu terkonfirmasi, itu beda. Makanya orang kesehatan hati-hati memberikan keterangan, karena jika masyarakat tidak paham bisa resah,” ujarnya.
Marzuki menegaskan sebenarnya hasil rapid test itu belum tentu sakit karena coronavirus. Masih ada tahapan berikutnya yang harus dilakukan, semisal uji swab dan public harus paham soal tersebut.
“Hasil rapid itu perjalanannya masih jauh, belum tentu yang rapid positif belum tentu sakit Corona. Orang habis olahraga dan lari-lari hasilnya bisa jadi mirip. Perumpamaannya begini, ada kucing dalam karung kita yakin suaranya dan ada hewan di dalamnya dan kita meraba-raba tapi belum tentu kucing, baru kita swap di Balitbang di Surabaya itu, baru kita pastikan itu kucing," tandasnya.
Dia menambahkan, meski itu belum tentu kucing, tapi tetap membunuh hewan di dalam karung tadi sebelumnya broadcast di medsos seperti FB dan Whatsapp terkait hasil rapid test serta pernyataan yang menyebutkan positif Covid-19 terhadap keluarga/kelompok masyarakat.
Informasi tersebut sangat disayangkan, karena menyebutkan identitas lengkap keluarga. Sementara penjelasan terhadap hasil pemeriksaan dan istilah medis tidak dijelaskan secara detail, sehingga memunculkan keresahan terutama masyarakat yang belum paham. (Wan)