
Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar atau Billy Mambrasar, menjadi salahsatu pemuda asal Serui, Kepulauan Yapen, Papua yang ditunjuk Presiden JokoWidodo untuk menjadi staf khususnya. Bagi Billy, memberikan kehidupan bagi yanglain adalah makna dari kebahagiaan sejati.
Memberikan pengetahuan dan wawasan langsung dari sumbernya,itulah yang dilakukan oleh Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)dalam kuliah umum bertema Bisnis Ekonomi Kreatif. Tak tanggung-tanggung, salahsatu Staf Khusus (Stafsus)Presiden, Billy Mambrasar diminta berbagi cerita danmotivasi bagi generasi muda.
Digelar di Auditorium Benecditus Gedung B Lantai 4 UKWMS, Jumat (31/1), banyak pengalaman yang di bagikan oleh Billy. Diantaranya adalah bagaimana memulai bisnis dari segi sosial. Billy menjelaskan untuk memulai bisnis, harus diketahui bedanya yayasan atau perusahaan yang fungsinya tak semata-mata untuk meraih keuntungan atau biasa disebut social enterprise. “Social entrepreneurship adalah sebuah pergerakan bukan hanya untuk menciptakan profit, tetapi juga memberikan dampak,“ tutur Billy.

Pendiri Yayasan Kitong Bisa ini bercerita perjalanannyamenjadi Sscial entrepreneur. Sebelum ia dipilih menjadi Stafsus Presiden,dirinya menjadi seorang Insiyur di salah satu perusahan ternama. Iamengungkapkan, rutinitas membuat tidak bisa berkembang dan tidak bisa pedulidengan lingkungan sekitar.
Maka dari itu, ia memutuskan untuk berhenti dan mendirikanyayasan untuk masyarakat Papua agar bisa memiki pendidikan tinggi. Sebabmenurutnya, di daerah asalnya masih banyak yang tidak mendapat pendidikandengan layak.
“Setelah satu tahun bekerja, saya merasa hidup saya kosongdan bosan. Ketika teman-teman yang lain menabung hasil kerja untuk jalan-jalan,saya menabung untuk membuat kelas kecil untuk anak-anak belajar dan bermain,”jelasnya.
Billy pun menekankan bahwa kebahagiaan sejati adalah mampumemberikan kehidupan bagi orang lain. Ia mencontohnya beberapa tokoh besarseperti Jackma CEO Alibaba, Ahmad Zaky CEO Buka Lapak yang memutuskan keluarhanya untuk mendirikan yayasan sosial.
“Hanya mereka yang punya social awareness bisa lebihberhasil. Tidak ada mau orang yang bekerja dengan orang yang egois. Yang tidakmau bersosialisasi,” ujarnya.
Billy menegaskan, sebelum membuat gerakan sosial harusmerasakan dulu menjadi wirausahawan karena di situ kita belajar susahnyamencari uang sendiri. Apalagi ada risiko ketika keluar dari zona nyaman kita.Ia pun berpesan kepada para peserta, agar sebagai mahasiswa ikut aktif dalamkegiatan kemahasiswaan, belajar kepemimpinan, visioner atau melihat jauh ke depan,menjadi pemecah masalah, mencari solusi dan menjadi agen perubahan dari padamarah dan mengeluh di sosial media.
Di sesi terakhir Billy berpesan, jika sudah tercetus ide jangantunggu lama, langsung dieksekusi. Sebab bila menunggu, bisa jadi akan dibuatoleh orang lain. Menurutnya yang terpenting adalah dapat berguna bagi oranglain, kreatif, serta berfikir jauh ke depan.
“Terserah kita mau membuat bisnis yang seperti apa, hanyamencari untung atau wirausahawan sosial, semua tergantung dengan visi kita. Danketika sudah punya ide bisnis atau gerakan sosial, segera identifikasi denganmenghubungkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SustainableDevelopment Goals, dan segera eksekusi luncurkan ke masyarakat. Jangan menungguterlalu lama, karena keburu orang lain yang membuat,”pungkasnya.(ard)