
JAKARTA (Lenteratoday)- Akhirnya WHO menyetujui vaksin Sinopharm untuk penggunaan darurat dalam penanganan pandemi COVID-19. Menjadikannya sebagai vaksin pertama asal China yang mengantongi izin WHO.
Izin penggunaan darurat vaksin Sinopharm ini menambah deretan vaksin yang telah disetujui WHO. Sejauh ini, WHO telah memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin yang dibuat Pfizer-BioNTech, Moderna, Johnson dan Johnson, dan AstraZeneca yang diproduksi di di India dan Korea Selatan.
"Sore ini (waktu Eropa), WHO memberikan daftar penggunaan darurat untuk vaksin COVID-19 Sinopharm (asal) Beijing, menjadikannya vaksin keenam yang menerima validasi WHO untuk keamanan, kemanjuran dan kualitas," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers, dikutip dari AFP, Sabtu (8/5).
Menurut penghitungan AFP, vaksin Sinopharm sudah digunakan di 42 negara dan terirotial. Sementara AstraZeneca di 166 negara dan teritorial, Pfizer-BioNTech di 94 negara dan teritorial, dan Moderna di 46 negara dan teritorial.
"Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi atau SAGE, juga telah meninjau data yang tersedia, dan merekomendasikan vaksin untuk orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, dengan dua dosis," imbuhnya.
Daftar penggunaan darurat vaksin oleh WHO membuka jalan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk segera menyetujui dan mengimpor vaksin, terutama bagi negara-negara yang tidak memiliki regulator standar internasional sendiri
Ini juga membuka pintu lebar bagi skema berbagi vaksin global COVAX-GAVI, yang bertujuan untuk memberikan akses yang adil ke semua negara, khususnya negara-negara miskin.
“Penambahan vaksin ini berpotensi mempercepat akses vaksin COVID-19 dengan cepat bagi negara-negara yang berupaya melindungi petugas kesehatan dan populasi yang berisiko,” kata Mariangela Simao, asisten direktur jenderal WHO untuk akses produk kesehatan.
"Kami mendesak pabrikan untuk berpartisipasi dalam fasilitas COVAX dan berkontribusi pada tujuan distribusi vaksin yang lebih adil," tambahnya.
Saat ini baru AstraZeneca dan Pfizer yang masuk dalam skema COVAX.
Bruce Aylward, pimpinan WHO di COVAX, memastikan pihak Sinopharm memberi respons positif dalam skema ini.
"Berusaha memberikan dukungan substansial, menyediakan dosis substansial. Sangat tertarik untuk memainkan peran untuk membantu respons global, yang menggembirakan," jelas Aylward.
WHO merekomendasikan agar dua suntikan vaksin Sinopharm dilakukan dengan jarak 3-4 minggu.
Kemanjuran vaksin Sinopharm untuk kasus infeksi bergejala dan dirawat di rumah sakit diperkirakan 79 persen ketika semua kelompok usia digabungkan.
Aylward mengatakan hanya sedikit orang dewasa di atas 60 tahun yang terdaftar dalam uji klinis vaksin tersebut, sehingga kemanjurannya tidak dapat diperkirakan pada kelompok usia tersebut.
Namun demikian, "tidak ada alasan teoretis untuk percaya bahwa vaksin tersebut memiliki profil keamanan yang berbeda pada populasi yang lebih tua dan yang lebih muda," terang Aylward.
Sejumlah vaksin lain sedang dalam proses menuju daftar penggunaan darurat WHO. Termasuk vaksin asal China lainnya, Sinovac, yang sudah digunakan di 22 negara dan teritorial.
Keputusan WHO untuk izin penggunaan darurat Sinovac diharapkan dalam beberapa hari ke depan.
Para ahli WHO mengatakan, telah meminta informasi tambahan dari Sinovac dan menunggu jawaban sebelum membuat rekomendasi.
Di belakang Sinovac, vaksin Sputnik V Rusia adalah yang terdepan dalam proses berikutnya.
Tetapi WHO masih menganalisis data, menerima informasi tambahan tentang berkas, dan melakukan inspeksi lokasi yang akan berakhir pada minggu pertama Juni.(ist)