
Penat dengan rutinitas kerja dan hinggar bingar perkotaan? Kampoeng Djawi yang terletak di Kabupaten Jombang patut menjadi pilihan piknik saat akhir pekan. Nuansa Jawa yang sangat kental disajikan mulai dari desain arsitektur bangunan hingga kulinernya.
Apakah Anda pernah menikmati drama kolosal Saur Sepuh? Bagi generasi 80-an cerita era kerajaan Majapahit itu tentu tak asing lagi dengan tokoh utama Brama Kumbara. Bahkan, saat ini cerita itu diadaptasi dalam sebuah sinetron seri di layar televisi.
Kejutan itulah yang akan dirasakan sebagian besar pengunjung Kampoeng Djawi. Melangkahkan kaki di kompleks bangungan yang terletak di Desa Carangwulung, Kec. Wonosalam, Jombang ini, gerbang batu bata dengan warna khasnya dibangun menyerupai candi. Saat melangkahkan kaki lebih dalam, rimbunan tanaman hias menghijau mengapit dua jalur jalan dihiasi kolam kecil menuju dua undakan ke aras pendopo.
Kekaguman tak berhenti di situ, nuansa Jawa juga makin terasa dari dua wayang raksasa dan penjor janur kuning di kanan kiri menyambut pengunjung yang datang. Kursi dan meja kayu sakan merayu para tamu untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke spot-spot mearik yang ditawarkan Kampoeng Djawi.
“Sesuai namanya, konsep kami adalah budaya Jawa. Mulai dari bangunan hingga kulinernya. Bahkan di ruang makan, dapur kami juga dilengkapi pawon yang menggunakan kayu bakar,” ujar Angga, salah satu penanggung jawab di Kampoeng Djawi.
Diceritakannya, area seluas 1,3 hektar (Ha) ini awalnya kebun, kemudian dibangun sebagai fasilitas pribadi untuk kumpul-kumpul keluarga sang pemilik. Pertamakali didirikan satu rumah berkonsep Jawa dilengkapi dengan ruang untuk pertemuan dan beberapa kamar.
Nuansa desa yang asri, tampaknya membuat keluarga pemilik makin banyak yang datang dan berkunjung untuk menghabiskan liburan. Walhasil, dibangunlah rumah baru di samping-sampingnya. “Sedari awal memang suka dengan benda-benda unik, jadul dan bernuansa Jawa. Untuk itu, bangungan-bangunan selanjutnya tetap dipertahankan dengan konsep ini dan naik turunnya juga mengikuti tekstur tanah,” katanya.
Dikembangkan sejak tahun 2015, dalam perkembangannya Kampoeng Djawi pun dibuka untuk umum. Berbagai properti yang digunakan didatangkan dari Lamongan, Pasuruan, Jombang, Kediri, dan beberapa daerah lain. Ada sembilan rumah Joglo yang masing-masing memiliki 4 kamar. Rumah-rumah yang didatangkan dari berbagai daerah ini memiliki usia 150 tahun lebih, yang direnovasi dan dimodifikasi menjadi lebih menarik lagi.
Masing-masing rumah bisa digunakan mencapai 32 orang. Total dari kapasitas ini rumah ini sekitar 120 orang. Nama yang digunakan untuk griya pun juga sangat kejawen, ada griya Dorogepak, griya Jineman, dan griya Joglo.
Terkait harga sewa griya-griya tersebut menurut Angga sangat terjangkau. “Sekitar Rp 400.000/pax sudah paket lengkap menginap dengan 4 kali makan,” katanya. Namun, sebagai catatan untuk fasilitas menginap Kampoeng Djawi hanya melayani minimal 20 pax. “Untuk paket individu atau satu keluarag di bawah 20 pax, saat ini kami belum bisa melayani,” katanya.
Hal tersebut terkait ketersediaan fasilitas terutama Sumber Daya Manusia-nya (SDM). Untuk diketahui, semua pekerja Kampoeng Djawi berasal dari masyarakat sekitar. Jadi diterapkan sistem freelancer. Saat weekend mereka bekerja di Kampoeng Djawi, terutama bagian dapur . “Kalau ada grup yang biasanya ambil weekend, yang masak ya ibu-ibu daerah sini. Jadi untuk pelayanan 24 jam sehari seperti di cottage atau hotel kami belum bisa,” tuturnya.
Apalagi, menu yang ditawarkan memang benar-benar tradisional yang tentunya memerlukan proses memasak dengan waktu panjang. Misalnya, kambing guling, ronde, klanting, lemet dan lain-lain. Nuansa dapur dan ruang makan di Kampoeng Djawi pun sangat tradisional. Tak hanya pawong kayu bakar, jagung-jagung yang digantung seperti di rumah pedesaan menjadi hiasan tersendiri. Alat makan hingga tempat kerupuk pun di pilih yang bernuansa jadul.
“Tapi pengunjung tidak perlu takut lapar harus menunggu masakan siap saji, karena sebenarnya di belakang pawon Jawa ini ada peralatan masak modern juga. Kompor elpiji dan lain-lain,” jelas Angga. Pihaknya juga menyediakan fasilitas api unggung dengan tari Rp 88.000/orang. Bagi yang tidak bisa menginap, Kampoeng Djawi juga memiliki paket harian dengan tarif Rp 154.000-Rp 198.000 per orang.
Ada juga Kafe Biyen buka tiap hari karena melayani pengunjung harian yang biasanya datang untuk sekadar berenang, selfi-selfi hingga foto prewedding. Untuk tamu yang hanya ingin jalan-jalan mengjelajahi area Kampoeng Djawi dan berenang, pengelola mengenakan tarif Rp 50.000 per orang. .
Konser Jazz
Tak hanya cocok untuk menikmati weekend, Kampoeng Djawi juga memiliki kalender tahunan yang rugi akalu dilewatkan. Ada Jazz Kampoeng Djawi hingga pertunjukan Ludruk. “Acara rutin kami ini sangat menarik minat masyarakat, terutama dari luar Jombang,” katanya.
Seperti di 2018 lalu, tepatnya bulan Mei sejumlah musisi jazz ternama tanah air silih berganti tampil di panggung Amphitheater.Ada Indra Lesmana, Syaharani, Monita Tahalea, Nita Aartsen, Pramono Abdi, dan sejumlah musisi jazz lainnya.
Beberapa dari musisi jazz tersebut ditemani grup band-nya saat membawakan lagu-lagu andalannya. Misalnya, Indra Lesmana bersama Keytar Trio, Syaharani & Queenfirework (ESQI:EF), dan Pramono Abdi dengan Quartetnya.
“Ada sekitar 250 orang pengunjung yang hadir dalam acara kami. Konser Jazz ini merupakan hasil kerjasama antara Kampoeng Djawi dengan Komunitas Jazz Jombang,” katanya.
Keberadaan 'Jazz Kampoeng Djawi' yang dipadu dengan pemberian workshop dari para musisi jazz ternyata dapat menarik minat para penggemar dan komunitas musik jazz Indonesia.
Makin banyaknya jumlah pengunjung menegaskan hal itu. Jika saat pertama kali digelar pada 2015, hanya 150 orang yang menonton. Pada 2016 naik jadi 200 orang, dan tahun ini penonton naik menjadi 250. Meski mereka harus membayar cukup mahal, Rp 300 ribu/orang.
Selain musik jazz, Kampoeng Djawi juga menggelar pertunjukan ludruk. “Ada Kartolo yang menghibur masyarakat dengan banyolan-banyolan khas nya,” tutup Angga.
Jadi, siap menikmati keasrian khas pedesaan Jawa dengan fasilitas kekinian sambil pesta durian Wonosalam? Ke Kampoeng Djawi saja! (dya)