05 April 2025

Get In Touch

Serikat Buruh Myanmar Minta Anggotanya Setop Kegiatan Ekonomi

Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021 (AFP)
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021 (AFP)

Lenteratoday -Kondisi Myanmar semakin memanas akibat kudeta Aung San Suu Kyi oleh otoritas miliiter. Serikat buruh utama Myanmar meminta anggotanya untuk menutup kegiatan ekonomi mulai hari ini, Senin (8/3/2021).

"Melanjutkan kegiatan ekonomi dan bisnis seperti biasa hanya akan menguntungkan militer karena mereka akan terus menekan  rakyat Myanmar," kata serikat buruh dalam pernyataan bersama.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun ini, ekspor ke Myanmar naik sekitar 38,2 juta dolar Amerika pada Januari 2021. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua setelah Thailand. 

Sementara itu sepanjang Januari-Desember 2020, nilai perdagangan Indonesia-Myanmar surplus 844,7 juta dokar Amerika. Nilai ini naik 21,9 persen dari 692,94 juta dolar Amerika pada 2019.

Nilai perdagangan itu berasal dari ekspor mencapai 1,03 miliar dolar Amerika, sementara impor 187,24 juta dolar Amerika. Adapun 10 Komoditas Utama yang dikirim Indonesia ke Myanmar adalah:

1. Lemak dan minyak hewan/nabati
2. Kertas, karton dan barang daripadanya
3. Garam, belerang, batu dan semen
4. Minyak atsiri, kosmetik, dan wangi-wangian
5. Produk farmasi
6. Minuman, alkohol dan cuka
7. Mesin dan perlengkapan elektrik
8. Berbagai barang buatan pabrik
9. Perekat, enzim
10. Bahan kimia anorganik

Pada medio Februari, Kepala BPS Suhariyanto sempat memberikan komentar mengenai hal tersebut. Dia memastikan, dampak kudeta Myanman kemungkinan tidak besar.

Pasalnya nilai perdagangan antara Indonesia dan Myanmar tidak sebesar negara-negara mitra dagang utama, seperti China, Amerika Serikat, dan Jepang.

"Tapi untuk jadi catatan bahwa sebetulnya kontribusi ekspor kita ke Myanmar tidak terlalu besar kalau dibandingkan dengan negara lainnya," jelasnya.

Kabar terbaru, saat ini pasukan militer telah menduduki rumah sakit di kota utama Yangon setelah seharian aksi protes besar-besaran.

Saksi juga melaporkan suara tembakan atau granat kejut di banyak distrik Ibu Kota komersial setelah malam tiba. Akan tetapi tidak jelas apakah ada yang terluka.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah organisasi nirlaba, menyatakan tentara dengan sengaja meneror penduduk di Yangon. Aksi unjuk kekuatan itu terjadi setelah beberapa aksi protes nasional terbesar sejak kudeta 1 Februari (Ist).

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.