04 April 2025

Get In Touch

Cegah Penyebaran Corona, Unesa Semprot Lingkungan dengan Disinfektan

Tim PKM melakukan penyemprotan dilingkungan Fakultas Teknik Unesa. (Foto: Dok.Pri)
Tim PKM melakukan penyemprotan dilingkungan Fakultas Teknik Unesa. (Foto: Dok.Pri)

SURABAYA(Lenteratoday)- Sejak virus corona masuk ke Indonesia, berbagai hal untuk mencegah penyebarannya mulai dilakukan. Mulai dari anjuran tetap di dalam rumah hingga penyemprotan cairan disinfektan di tempat-tempat umum yang menjadi pusat orang berkumpul.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan langkah srupa dengan terus melakukan bermacam upaya agar kampus dan lingkungan terbebas dari pandemi ini. Salah satunya melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di lingkungan kampus.

Terbaru, Tim PKM melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan Fakultas Teknik yang menjadi ‘zona merah’ di bulan November dan Desember 2020 lalu. Menurut catatan, pada awal Januari lalu Unesa juga menerapkan Pembatasan Kegiatan Berskala Besar (PKBB) setelah 20 orang civitas akademika kampus tersebut terpapar Covid-19.

Selama masa PKBB, pihak kampus menerapkan sistem kerja bergantian yakni work from home (WFH) dan worf from office (WFO). Jumlah pegawai yang datang maksimal 25 persen dari total pegawai di tiap unit kerja. Kemudian bagi pegawai atau dosen yang baru datang dari luar kota, wajib untuk menyertakan hasil pemeriksaan rapid atau swab antigen yang menyatakan negatif Covid-19 sebelum kembali ke kampus.

Untuk diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan situasi COVID-19 di Indonesia per 2 Desember mengungkap persentase kematian Corona di RI masih tinggi. Berdasarkan laporan hasil analisis WHO 23-29 November, insidensi kematian COVID-19 sebesar 0,34 per 100.000 populasi atau 3,4 persen.

"Selama seminggu 23 November-29 November, jumlah kematian Covid-19 yang terkonfirmasi adalah 0,34 per 100.000 penduduk," dikutip dari laman resmi WHO. Menurut standar WHO, rata-rata angka kematian global saat ini sebesar 2,39 persen. Membandingkan dengan rata-rata dunia, artinya kematian akibat Covid-19 di Indonesia masih terlampau tinggi.

Selain itu, WHO juga menyebut tidak ada penurunan kasus kematian beturut-turut dalam tiga pekan terakhir di Pulau Jawa. WHO menyoroti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, ada lebih banyak kasus kematian dalam kurun waktu 9 November-29 November.

Laporan tersebut juga mencatat Indonesia hanya menghimpun data kematian pada pasien Covid-19 yang terkonfirmasi. Padahal dalam pedoman WHO, kematian pasien suspek juga harus melaporkan dalam data kematian harian.

"Berdasarkan ketersediaan data, hanya kematian Covid-19 terkonfirmasi yang masuk data. Namun, sesuai definisi WHO, kematian pada pasien bergejala Covid-19 yang belum terkonfirmasi, atau pasien suspek, adalah kematian terkait Covid-19," lanjut laporan itu.

WHO juga memperhatikan ketersediaan tempat tidur pasien Covid-19. Mereka menyoroti keterisian tempat tidur di Bogor, Jawa Barat, yang mencapai 80 persen dengan 662 bed terisi dari total 812 yang tersedia. Berdasarkan data Satgas COVID-19 Jumat (4/12), akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 557.887 orang. Sebanyak 462.553 sembuh, dan 17.355 kasus meninggal dunia.(adv)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.