MALANG (Lentera) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menjadikan program Kampung MBOIS sebagai jurus, untuk mengelola sampah dimulai dari lingkungan tempat tinggal.
Tak sekadar mengejar penghargaan, program ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran warga dalam memilah dan mendaur ulang sampah, mengaktifkan kembali bank sampah, serta menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bernilai ekonomi.
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang menjelaskan Kampung Mbois merupakan akronim dari Kampung Mandiri, Bersih, Olah Sampah, Indah, dan Sehat, program tersebut diharapkan menjadi cikal bakal lahirnya kampung-kampung baru yang mampu berkembang menjadi Kampung Berseri maupun Kampung Proklim.
"Pengolahan sampah atau menjaga kebersihan lingkungan hidup itu bukan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup, tetapi juga tanggung jawab bersama, dalam hal ini masyarakat," ujar Raymond, Rabu (21/10/2026).
Dijelaskannya, penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), mulai dari mengurangi timbulan sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, hingga mendaur ulang material, menjadi salah satu upaya yang dikembangkan. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan bagi komunitas di tingkat kampung.
Penguatan Kampung Mbois juga diarahkan untuk bersinergi dengan keberadaan bank sampah. DLH Kota Malang mencatat, jumlah bank sampah yang sebelumnya pernah mencapai sekitar 500 unit sempat menurun. Melalui sosialisasi dan upaya aktivasi kembali, jumlahnya kini meningkat dari sekitar 200 menjadi 370 unit.
Raymond berharap, sinergi antara Kampung Mbois dan bank sampah dapat memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungan. Setiap kampung diharapkan memiliki standar operasional untuk menjalankan kegiatan pengelolaan sampah dan kebersihan sesuai dengan kondisi wilayahnya.
"Dengan pola tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu tindakan dari pemerintah, tetapi dapat mengambil inisiatif untuk menjaga lingkungan secara mandiri," katanya.
Dalam pelaksanaannya kali ini, Raymond menyebut sosialisasi Kampung Mbois menyasar perwakilan RW dari kelurahan yang belum pernah mengikuti program serupa.
DLH Kota Malang menyiapkan total hadiah sebesar Rp80 juta dalam lomba Kampung Mbois ini. Selain hadiah tersebut, kampung-kampung yang menunjukkan perkembangan juga berpeluang mendapatkan dukungan lanjutan berupa bantuan dari pemerintah provinsi, pemerintah pusat, maupun pihak swasta dan BUMN.
"Penilaian dan pengumuman hasil program dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang," pungkasnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan perubahan nama dari Kampung Bersinar menjadi Kampung Mbois disertai penekanan pada pembinaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Menurut Wahyu, program ini tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai perlombaan untuk memperoleh penghargaan. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan merawat lingkungan secara berkelanjutan.
"Dengan mereka bisa sadar menjaga lingkungan, penghargaan itu bukan menjadi satu tujuan. Tetapi adalah manfaat dari diadakannya Kampung Mbois ini, mereka menjadi sadar dan akhirnya menjaga lingkungan," ujar Wahyu. (ADV)
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)

Post a comment