MALANG (Lentera) -Potensi keluarnya pasar saham Indonesia dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dapat memicu dampak serius. Mulai dari keluarnya modal asing dalam jumlah besar, penurunan harga saham, hingga meningkatnya kesulitan perusahaan mencari pendanaan.
Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, S.E., M.E., mengingatkan kondisi tersebut juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan berdampak pada daya beli masyarakat.
"Pasar modal itu penting karena menjadi acuan utama bagi investor global dan untuk menjamin kredibilitas sistem pasar saham suatu negara," ujarnya, Sabtu (17/10/2026).
Wildan memaparkan 5 dampak yang berpotensi muncul jika pasar saham Indonesia tidak lagi masuk dalam indeks global yang menjadi acuan investor.
Pertama, investasi asing berpotensi keluar dalam jumlah besar. Investor yang mengikuti indeks tertentu, menurutnya dapat mengurangi kepemilikan saham Indonesia jika pasar saham nasional tidak lagi masuk dalam indeks acuannya.
Kedua, transaksi saham bisa berpotensi semakin sepi. Berkurangnya investor asing, terutama investor institusi bermodal besar, dapat mengurangi aktivitas jual beli saham di bursa.
Ketiga, harga saham berpotensi turun. Ketika semakin sedikit investor yang berminat membeli, harga saham dapat tertekan. Kondisi ini juga bisa terjadi pada perusahaan yang sebenarnya memiliki kinerja usaha baik.
Keempat, perusahaan bisa semakin sulit mendapatkan modal. Jika kepercayaan investor menurun, perusahaan berpotensi menghadapi kesulitan memperoleh dana melalui pasar saham untuk memperluas usaha, membangun fasilitas baru, atau mengembangkan bisnis.
Kelima, rupiah berpotensi ikut tertekan. Dikatakannya, jika investor asing menarik dana dan menukarkan rupiah ke mata uang lain, permintaan terhadap mata uang asing dapat meningkat. Namun, besarnya dampak terhadap nilai tukar juga bergantung pada kondisi ekonomi dan aliran modal lainnya.
Wildan menjelaskan, MSCI merupakan lembaga penyedia indeks saham yang menjadi acuan investor di berbagai negara. MSCI sendiri membagi pasar saham ke dalam 4 kategori, yakni Developed Market, Emerging Market, Frontier Market, dan Standalone Market.
Saat ini, Indonesia berada dalam kategori Emerging Market. Namun penyedia indeks global MSCI pada Jumat (16/10/2026), mengumumkan sedang mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi status pasar mandiri (standalone).
Wildan menyoroti potensi penurunan status Indonesia langsung ke kategori Standalone Market, tanpa melalui kategori Frontier Market.
Menurutnya, kondisi pasar saham perlu diwaspadai ketika harga saham turun tajam, banyak investor menarik dananya, serta muncul persoalan yang membuat pelaku pasar kehilangan kepercayaan.
Wildan mengingatkan, persoalan pasar modal tidak hanya berkaitan dengan keuntungan atau kerugian investor saham. Jika kondisi tersebut menghambat masuknya investasi dan mengganggu kegiatan usaha, dampaknya berpotensi menjalar ke perekonomian masyarakat.
"Jika investasi tidak banyak masuk, hal itu bisa mengancam pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Ketika pertumbuhan ekonomi rendah, daya beli masyarakat juga akan semakin rendah dan pendapatan masyarakat pun menurun," tegasnya.
Untuk menjaga kepercayaan investor, Wildan menilai pemerintah dan regulator perlu membenahi persoalan mendasar dalam tata kelola pasar modal.
Salah satunya, memastikan kepemilikan saham dapat diketahui secara transparan. Laporan keuangan perusahaan juga harus menggambarkan kondisi sebenarnya, termasuk ketika perusahaan mengalami kerugian.
Selain itu, pengawasan terhadap praktik insider trading atau transaksi saham dengan memanfaatkan informasi penting yang belum diketahui publik perlu diperkuat. Pelanggaran harus ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
"Harga saham itu tidak hanya dipengaruhi oleh pengawasan saja, tetapi juga situasi ekonomi secara keseluruhan. Kepastian hukum juga sangat berpengaruh, begitu pula transparansi. Pengawasan dari regulator turut memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas pasar," pungkas Wildan.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH



.jpg)

Post a comment