13 October 2026

Get In Touch

Badan Geologi Catat Gunung Anak Krakatau 14 Kali Erupsi

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (9/10/2026) pukul 18.28 WIB. (Foto: Ant)
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (9/10/2026) pukul 18.28 WIB. (Foto: Ant)

SURABAYA (Lentera) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami 14 kali erupsi dalam empat hari atau 6-9 Oktober 2026. Erupsi pada Jumat (9/10/2026) sore meluncurkan kolom abu setinggi 250 meter di atas puncak.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi aktivitas gunung api, peningkatan aktivitas tersebut mulai terlihat sejak awal Oktober, melansir Kumparan. Kenaikan status ini menyusul peningkatan aktivitas erupsi dalam beberapa hari terakhir. Dia menandaskan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), mulai Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB. 

Meski demikian, pengamatan kegempaan vulkanik selama periode 21 September-9 Oktober 2026 belum menunjukkan peningkatan signifikan. Frekuensi rata-rata kejadian gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik tercatat di bawah lima kali per hari.

Lana Saria dalam keterangannya Jumat, melansir antara, mengatakan pada Jumat (9/10/2026) bahwa erupsi gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut tercatat terjadi pada pukul 16.17 WIB.

"Kolom abu teramati berwarna kelabu, cokelat, hingga hitam dengan intensitas tebal yang condong bergerak ke arah utara dan barat laut," kata dia.

Lana menjelaskan bahwa tinggi kolom abu vulkanik tersebut teramati mencapai kurang lebih 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Berdasarkan rekaman kegempaan, aktivitas erupsi tersebut terekam pada instrumen seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 39 milimeter.

Lana Saria, mengatakan data Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) dan tiltmeter juga tidak menunjukkan gejala peningkatan aktivitas yang signifikan.

Dengan status Siaga, Badan Geologi melarang masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung dan wisatawan memasuki atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat dan wisatawan juga dilarang memasuki wilayah dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan. Potensi bahaya tersebut perlu diwaspadai dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak memercayai informasi yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami.

Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Badan Geologi akan mengevaluasi tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Status Level III (Siaga) dan rekomendasi yang menyertainya tetap berlaku sampai laporan evaluasi berikutnya diterbitkan. (*)


Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.