14 May 2026

Get In Touch

Penelitian Ungkap Potensi Tabrakan 2 Lubang Hitam Raksasa, Apakah Berbahaya?

Penelitian Ungkap Potensi Tabrakan 2 Lubang Hitam Raksasa, Apakah Berbahaya?

SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah penelitian terbaru mengungkap kemungkinan terjadinya tabrakan dua lubang hitam raksasa dalam kurun waktu sekitar 100 tahun ke depan. Temuan ini menjadi sorotan karena memberikan gambaran langka tentang proses ekstrem yang terjadi di pusat galaksi, sekaligus membuka peluang baru untuk memahami fenomena kosmik yang selama ini sulit diamati secara langsung.

Para ilmuwan melakukan analisis menggunakan data pengamatan teleskop radio yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Fokus mereka adalah sebuah objek sangat terang yang sebelumnya dikategorikan sebagai blazar, yakni inti galaksi aktif yang bersinar kuat akibat aktivitas lubang hitam

supermasif di pusatnya. Objek ini diketahui berada sekitar 500 juta tahun cahaya dari Bumi.
Namun, hasil pengamatan terbaru menunjukkan hal yang tidak biasa. Alih-alih hanya memiliki satu semburan energi (jet) seperti blazar pada umumnya, objek ini ternyata memiliki dua jet yang bergerak dengan pola berbeda. Salah satunya bahkan tampak berputar berlawanan arah jarum jam. Temuan ini mengindikasikan bahwa sumber energi tersebut bukan hanya satu, melainkan dua lubang hitam supermasif yang saling berdekatan dan berada di ambang tabrakan.

Fenomena ini ditemukan pada blazar di galaksi Markarian 501. Kedua lubang hitam tersebut diperkirakan memiliki massa yang sangat besar, yakni antara 100 juta hingga satu miliar kali massa matahari. Ukurannya yang luar biasa ini membuat interaksi gravitasi di antara keduanya menjadi sangat kuat dan kompleks.

Penelitian yang dipublikasikan pada 27 Maret di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society ini juga mengungkap momen penting yang terjadi pada Juni 2022. Saat itu, kedua lubang hitam berada dalam posisi sejajar sempurna. Akibatnya, gravitasi dari lubang hitam utama membelokkan cahaya dari jet yang lain, menciptakan fenomena yang dikenal sebagai cincin Einstein.

Fenomena ini merupakan bagian dari efek lensa gravitasi, di mana cahaya dibelokkan oleh medan gravitasi objek besar seperti lubang hitam. Bagi para peneliti, kemunculan cincin ini menjadi bukti kuat bahwa memang terdapat dua lubang hitam yang saling berinteraksi di pusat blazar tersebut.
Lebih jauh, kedua lubang hitam ini diketahui mengorbit satu sama lain dengan periode sekitar 121 hari. Jarak di antara keduanya pun relatif dekat dalam skala kosmik, yakni hanya sekitar 250 hingga 540 kali jarak antara Bumi dan Matahari. Meski terdengar jauh, dalam konteks ruang angkasa, ini tergolong sangat dekat untuk objek sebesar itu.

Seiring waktu, orbit keduanya akan semakin menyempit akibat kehilangan energi, hingga akhirnya mereka akan bertabrakan dan menyatu. Peristiwa ini diperkirakan akan menghasilkan gelombang gravitasi yang sangat kuat, bahkan mungkin lebih besar dibandingkan gelombang gravitasi dari tabrakan lubang hitam yang pernah terdeteksi sebelumnya.

Jika prediksi ini benar, maka detektor di Bumi berpeluang menangkap sinyal tersebut di masa depan. Hal ini akan memberikan informasi berharga bagi para ilmuwan untuk memahami lebih dalam tentang sifat lubang hitam, cara mereka berinteraksi, serta bagaimana energi ekstrem dilepaskan dalam skala yang belum pernah disaksikan sebelumnya.

Penemuan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang alam semesta, tetapi juga menunjukkan bahwa masih banyak misteri kosmik yang menunggu untuk diungkap, bahkan dari objek yang selama ini dianggap sudah dipahami dengan baik. (Inna – mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.