MAKKAH (Lentera) - Perjalanan ibadah haji tahun ini menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Aysylla Naila Sari. Di tengah rangkaian ibadah di Tanah Suci, remaja asal Kabupaten Malang itu tetap harus menuntaskan ujian sekolah secara daring dari Madinah, Arab Saudi.
Siswi kelas 9 MTsN 1 Kota Malang yang akrab disapa Ays itu menjalani ujian berbasis komputer atau computer based test (CBT) selama lima hari, saat berada di Madinah bersama rombongan jemaah haji Indonesia.
"Kemarin waktu di Madinah, selama lima hari saya benar-benar fokus bagi waktu buat ujian online. Karena jadwalnya memang pas barengan dengan keberangkatan haji tahun ini," ujar Ays saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Makkah.
Ays tergabung dalam Kloter 16 Embarkasi Surabaya (SUB). Perjalanannya menuju Tanah Suci sempat diwarnai situasi tak terduga ketika pesawat Saudi Arabian Airlines SV-5323 yang ditumpanginya melakukan pendaratan darurat di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatra Utara.
Kondisi itu membuat masa tinggal rombongannya di Madinah berkurang menjadi tujuh hari dari jadwal semula sembilan hari. Waktu yang lebih singkat membuat Ays harus membagi fokus antara ibadah dan pendidikan.
Di sela aktivitas ibadah, remaja 15 tahun tersebut tetap menyelesaikan soal ujian melalui ponsel dari kamar hotelnya di Madinah. Baginya, menunda ujian berarti kehilangan kesempatan mengikuti wisuda sekolah di Tanah Air pada Juni mendatang.
Perjalanan haji Ays sendiri telah dipersiapkan keluarganya sejak lama. Sang ayah yang bekerja sebagai nelayan di pesisir Tambakrejo, Malang Selatan, mendaftarkannya berhaji pada 2012 saat usianya masih balita.
"Bapak dan Ibu sudah haji tahun 2006. Mereka ingin saya dan kakak-kakak bisa berangkat saat masih muda, biar kuat fisiknya," katanya, mengutip Bisnis (Selasa, 12/5/2026).
Kini, setelah menyelesaikan ujian sekolah sekaligus menjalani ibadah di Madinah, Ays mulai mempersiapkan diri menghadapi rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)*
Editor: Arifin BH




.jpg)
