SURABAYA (Lentera) - Dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya mulai mengungkap sejumlah fakta baru. Beberapa siswa mengaku sempat merasakan kejanggalan pada menu makanan yang mereka konsumsi sebelum mengalami gejala mual, pusing, hingga sakit perut.
Salah satu korban, Gibran Pratama, siswa kelas 4 SD Raden Wijaya, mengatakan menu nasi krengsengan daging yang dibagikan sekolah pada Senin pagi terasa tidak seperti biasanya, terutama pada bagian daging.
"Dagingnya rasanya aneh, seperti rasa obat. Kalau bumbunya sebenarnya enak, tapi dagingnya beda," ujar Gibran, Senin (11/5/2026).
Menu MBG tersebut dibagikan sekitar pukul 09.00 WIB dalam ompreng makan yang berisi nasi, krengsengan daging, dan sayur buncis. Tak lama setelah mengonsumsi makanan itu, Gibran mulai merasakan sakit perut disertai pusing kepala saat proses belajar berlangsung.
Kondisi serupa juga dialami sejumlah siswa lainnya. Suasana di sekolah sempat panik ketika beberapa anak mengeluhkan gejala yang hampir sama dalam waktu bersamaan.
Berdasarkan informasi di lapangan, sedikitnya empat siswa SD Raden Wijaya harus dievakuasi ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
"Tadi langsung dibawa ke puskesmas. Ada empat anak yang sakit perutnya, dua anak dari kelas 6 dan dua anak dari kelas 4, termasuk saya," katanya.
Insiden tersebut memicu kekhawatiran para orang tua siswa. Atika, wali murid dari Jihan, siswi kelas 6 SD Ubaid, mengaku langsung panik setelah menerima kabar dugaan keracunan melalui grup WhatsApp dan informasi dari pihak sekolah.
Meski putrinya hanya mengonsumsi sebagian kecil makanan tersebut, Atika tetap berupaya melakukan langkah antisipasi untuk menjaga kondisi anaknya.
"Saya langsung panik dan cemas. Begitu dapat kabar, saya langsung belikan degan ijo dan susu untuk antisipasi. Takut sekali kalau sampai kenapa-kenapa," ujar Atika.
Menurutnya, gejala yang dialami putrinya memang tidak separah siswa lain yang mengalami sakit perut dan pusing hebat. Namun, ia berharap kejadian ini menjadi perhatian serius semua pihak, terutama terkait pengawasan keamanan pangan dalam program MBG.
"Programnya bagus, tapi keamanan makanannya harus benar-benar dijaga supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi




.jpg)
