TIONGKOK (Lentera) - Sebanyak 26 orang tewas dan 61 lainnya luka dalam ledakan di sebuah pabrik kembang api di provinsi Hunan, Tiongkok, yang terjadi sekitar pukul 16.40 waktu setempat (08.40 GMT) pada hari Senin (4/5/2026).
Aljazeera pada Selasa (5/5/2026) menyebutkan bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memerintahkan penyelidikan setelah ledakan tersebut. "Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban dan mendesak upaya maksimal untuk mencari orang-orang yang masih hilang," kata Xi menurut kantor berita Xinhua.
Sementara itu Pemerintah daerah mengirimkan 482 personel darurat ke lokasi kejadian dan mengevakuasi daerah sekitarnya karena risiko ledakan lebih lanjut di gudang pabrik, lapor media pemerintah.
Sementara, BBC melaporkan bahwa operasi penyelamatan telah selesai dan mengevakuasi semua orang dalam radius 3 km (1,9 mil) dari pabrik tersebut. Pihak berwenang mengerahkan lebih dari 1.500 petugas tanggap darurat, bersama dengan anjing, drone, dan robot. Mereka menyelamatkan tujuh orang yang terjebak di bawah reruntuhan.
Sementara itu, Polisi yang sedang menyelidiki penyebab ledakan tersebut, telah mengambil "tindakan pengendalian" terhadap staf yang bertanggung jawab atas perusahaan kembang api tersebut. Pihak berwenang mengatakan bahwa dua gudang bubuk mesiu di dalam area pabrik menimbulkan risiko tinggi di tengah upaya penyelamatan, lapor media pemerintah.
Selain mengevakuasi orang-orang di dekat pabrik kembang api, tim penyelamat juga menerapkan tindakan seperti melembabkan area tersebut untuk "mencegah kecelakaan sekunder selama penyelamatan".
Aljazeera melaporkan bahwa pihak berwenang keamanan publik telah mengambil tindakan terhadap orang yang bertanggung jawab atas perusahaan tersebut, yang menunjukkan bahwa individu tersebut mungkin telah ditangkap. (*)
Penulis : Lutfiyu Handi




.jpg)
